Mushaf al-Madinah al-Qur’an al-Karim

Mushaf al-Madinah al-Qur’an al-Karim

Beli Produk Ini

Rp 300.000

Product Description

Mushaf al-Madinah al-Qur’an al-Karim

Mushaf ‘Utsmani yang kita kenal sekarang melalui sejarah yang panjang. Sebagai sunnatullah yang berlaku terhadap umat ini. Al-Qur’an merupakan kumpulan pelajaran kehidupan yang sangat dalam maknanya. Maka beruntunglah, orang-orang yang mengakrabi al-Qur’an (membacanya dan mentadabburinya) setiap hari. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ . قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam al-Qur’an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran. (Ialah) al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (Surat az Zumar: 27-28)

Sekilas Tentang Mushaf ini

Mushaf al-Madinah al-Muyasar ini merupakan Mushaf ‘Utsmani yang mengacu kepada qira’ah riwayat Imam Hafs bin Sulaiman al-Mughirah al-Asadi al-Kufi. Pembagian ayat di mushaf ini mengikuti metode ulama Kufah, yaitu mengacu kepada qira’ah ‘Abdullah bin Habib as-Sulami (Abu Abdirrahman) radhiyallahu’anhu yang diriwayatkannya dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Berdasarkan qira’ah tersebut, mushaf ini terdiri dari 6236 ayat. Dalam mushaf ini terdapat 15 ayat sajadah dan 5 saktah. Penanda bagi ayat-ayat sajadah diletakkan berdasarkan penjelasan di beberapa kitab hadis dan fiqih.

Sejarah Penulisan al-Qur’an

Penulisan mushaf al-Qur’an sudah dimulai sejak masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu beberapa sahabat seperti Abu Bakar ash-Shidiq, ‘Umar bin Khaththab, ‘Utsman bin ‘Affan, dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum menulis ayat-ayat al-Qur’an di pelepah pohon Kurma, kulit kayu, dan tulang. Dengan begitu, ketika Rasulullah wafat semua ayat al-Qur’an telah selesai ditulis, hanya saja masih terpisah-pisah dan susunan suratnya belum berurutan.

Pada masa Khalifah Abu Bakar, proses penulisan al-Qur’an berkembang ke tingkat kodifikasi, yaitu pengumpulan salinan-salinan yang tersebar menjadi satu. Upaya ini lahir setelah banyak sahabat yang hafal al-Qur’an gugur dalam peperangan. Sahabat yang ditugasi mengumpulkan salinan-salinan tersebut adalah Zaid bin Tsabit. Setelah Khalifah Abu Bakar meninggal dunia, mushaf yang telah di susun disimpan oleh Khalifah ‘Umar bin Khaththab. Dan setelah Khalifah ‘Umar meninggal dunia, mushaf tersebut disimpan oleh putrinya, Hafshah binti ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Pada masa Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan, negeri yang berada di bawah pemerintahan Islam semakin banyak. Kaum muslimin di negeri-negeri tersebut membaca al-Qur’an  sesuai dengan qira’ah sahabat yang mengajarkannya. Seiring berlalunya waktu, hal itu menimbulkan perbedaan pandangan di antara mereka yang tidak paham tentang perbedaan qira’ah al-Qur’an. Untuk meredam dampak negatif dari perbedaan tersebut, Khalifah Utsman memerintahkan sejumlah sahabat untuk menyalin mushaf induk yang akan dijadikan acuan bagi kaum muslimin. Mereka adalah Zaid bin Tsabit, ‘Abdullah bin Zubair, Sa’id bin al-Ash, dan ‘Abdurrahman bin al-Harits radhiyallahu ‘anhum. Mushaf-mushaf induk itulah yang pada kemudian hari dikenal dengan mushaf ‘Utsmani.

Ada 6 mushaf ‘Ustmani induk yang disalin ketika itu. Mushaf-mushaf tersebut kemudian dikirim ke Bashrah, Kufah, Syam, Mekah, dan Madinah. Khalifah ‘Utsman sendiri menyimpan 1 buah mushaf induk yang dikenal dengan mushaf al-Imam. Dengan kehadiran mushaf-mushaf induk ini maka salinan mushaf lainnya dimusnahkan. Mushaf-mushaf induk itulah yang kemudian dijadikan acuan dalam penulisan mushaf-mushaf ‘Utsmani berdasarkan riwayat dari para Imam ahli Qira’ah.

Cetakan Dar Syafi’i