Buku Kisah Hidup Ulama Rabbani

Buku Kisah Hidup Ulama Rabbani

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 95.000,00
Rp 76.000
You save: IDR 19.000,00! (20.00%)

Product Description

Buku Kisah Hidup Ulama Rabbani

Buku Kisah Hidup Ulama Rabbani-Menjaga waktu dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat akan membuahkan kebahagiaan, berbeda dengan menyia-nyiakannya. Apa yang dituai, kesengsaraan. Dan berapa banyak tokoh dunia yang sukses karena perhatian dengan waktunya, begitu pula dengan para ulama (tokoh pembela agama). Lihatlah kesibukan mereka, bandingkan dirimu dengan mereka? Mereka sangat takut jika termasuk dalam sindiran hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. al-Bukhari, no. 6412)

Mengelola Waktu menurut Pakar

Seorang ulama yaitu Ibnu Daqiq Al-`Id menjelaskan hadits ‘5 Perkara Sebelum 5 Perkara’, dengan sangat indah, “Kalimat ‘pergunakanlah waktu sehatmu sebelum engkau sakit’ adalah perintah kepada kita untuk memanfaatkan kesehatan kita dan berusaha dengan penuh kesungguhan selama masa itu, karena khawatir bertemu dengan masa sakit yang dapat merintangi usaha untuk beramal. Begitu pula ‘waktu hidupmu sebelum engkau mati’ mengingatkan agar memanfaatkan masa hidup kita, karena barangsiapa mati, amalnya terputus dan angan-angannya lenyap, serta akan muncul penyesalan yang berat karena kelengahannya meninggalkan kebaikan. Hendaklah ia menyadari bahwa ia akan menghadapi masa yang panjang di alam kubur, sedangkan ia tidak dapat beramal dan tidak mungkin dapat beribadah kepada Allah lagi di alam kubur. Oleh karena itu, hendaklah ia memanfaatkan seluruh masa hidupnya itu untuk berbuat kebajikan.” (rumaysho.com/634)

Nasehat Emas

Khalifah Umar bin Khaththab berkata, “Aku tidak suka melihat seseorang yang berjalan seenaknya tanpa mengindahkan ini dan itu, yaitu tidak peduli penghidupan dunianya dan tidak pula sibuk dengan urusan akhiratnya.”

Berkata Ibnu Mas’ud, “Aku sangat membenci orang yang menganggur, yaitu tidak punya amalan untuk penghidupan dunianya ataupun akhiratnya.”

Nafi’, pembantu Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, ditanya, “Apa yang dilakukan Abdullah bin Umar di rumah bersama keluarganya?” Dia menjawab, “Berwudhu setiap (waktu) shalat dan di antaranya adalah mushaf.” (Zadul Muslim, juz:3). Mungkin ada yang bertanya, “Apakah Abdullah bin Umar tidak berkomunikasi dengan keluarganya, apakah beliau tidak membantu keluarga dan mencari nafkah?” Kita berprasangka baik, tentu orang seperti beliau memenuhi hak anak dan istrinya, namun di waktu-waktu sela, ia selalu membaca Alquran untuk memanfaatkan detik-detik usianya sehingga Nafi’ menilai beliau dengan kebiasaannya tersebut.

Ibrahim bin al-Jarrah berkata, “Imam Abu Yusuf al-qadhi rahimahullah sedang sakit. Saya pun menjenguknya. Saat itu dia tidak sadarkan diri. Ketika terjaga, beliau lalu bersandar dan mengatakan, “Hai Ibrahim, bagaimana pendapatmu dalam masalah ini?” Saya menjawab, “Dalam kondisi seperti ini?” Dia mengatakan, “Tidak mengapa, kita terus belajar. Mudah-mudahan ada orang yang terselamatkan karena kita memecahkan masalah ini.” Lalu saya pulang, ketika baru sampai rumah, saya mendengar kabar bahwa beliau telah wafat.”

(Mengambil faidah dari kisahmuslim.com/3604)

Buku cetak edisi hardcover, tebal buku 464 halaman, ukuran buku 16 x 23,5 cm, dan dengan berat 705 gram.

Penulis: Abdul Fatah bin Muhammad

Penerbit: Zam-Zam Air Mata Ilmu