Buku Wasiat Rasul Kepada Pembaca Dan Penghafal Al-Qur’an

Buku Wasiat Rasul Kepada Pembaca Dan Penghafal Al-Qur’an

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 36.500,00
Rp 29.000
You save: IDR 7.500,00! (20.55%)

Product Description

Buku Wasiat Rasul Kepada Pembaca Dan Penghafal Al-Qur’an

Al-Qur’an pada asalnya adalah bentuk mashdar (kata nomina yang diturunkan dari verba), seperti kata kufran dan rujhan. Allah berfirman:

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (Surat al-Qiyamah: 17-18)

Kata Ibnu Abbas (dalam menafsirkan firman Allah di atas). “Apabila telah Kami kumpulkan al-Qur’an dan kami mantapkan di dalam dadamu, amalkanlah! Nama al-Qur’an ini dikhususkan untuk kitab yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti nama Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihissallam dan Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa ‘alaihissallam.”

Penyusun kitab Manahil al-Irfan, az-Zarqani, berkata, “Adapun lafal al-Qur’an secara bahasa adalah bentuk mashdar adalah bentuk mashdar yang menjadi sinonim dengan kata al-Qira’ah, seperti firman-Nya:

“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (Surat al-Qiyamah: 17-18)

Kemudian makna berdasarkan bentuk mashdar ini diambil dan dijadikan sebagai nama paten untuk kalam yang menjadi mukjizat, yaitu al-Qur’an. (Sehingga kemudian) ditulis dengan tanpa hamzah pada alif tengah, dan tidak terlepas dari partikel ‘al’ (alif-lam-ta’rif). Seluruh kajian tentang makna asal al-Qur’an ini tidak menampakkan satu aspek makna saja. Upaya untuk menggali sebuah makna tidak lepas  dari kesulitan. Dengan kata lain, upaya tersebut tetap harus melibatkan kaidah-kaidah isytiqaq (ilmu tentang derivasi kata) dan asal-usul bahasa.”

Potret Para Salaf Membaca al-Qur’an

Potret 1

Kata Ibnu Abi Malikah, “Saya pernah menemani Ibnu Abbas ketika safar. Jika beliau singgah di suatu tempat, beliau bangun di tengah malam dan membaca al-Qur’an dengan tartil. Pada setiap huruf yang dibacanya, beliau berusaha sesering mungkin menangis -yakni memperbanyak nasyij dan nahib-. Maksudnya nasyij dan nahib adalah suara yang biasa terdengar ketika menangis karena takut kepada Allah.”

Potret 2

Abdullah bin Urwah bin Zubair, "Aku pernah bertanya pada nenekku, Asma' binti Abu Bakr, "Apa yang dilakukan para sahabat Rasulullah ketika mendengar al-Qur'an?" Beliau menjawab, "Air mata mereka mengucur dan kulity mereka merinding seolah-olah Allah menggertak mereka."

Buku cetak edisi softcover, tebal buku 200 halaman, ukuran buku 14 x 20,5 cm, dan dengan berat 239 gram.
Penulis: Dr. Muhammad Musa Nashr
Penerbit: Al-Qowam