Buku Tuntunan Shalat Jum’at

Buku Tuntunan Shalat Jum’at

Beli Produk Ini

Rp 0

Product Description

Buku Tuntunan Shalat Jum’at

Jum’atan, ritual wajib yang rutin dilakukan secara massal oleh kaum muslimin. Mempunyai kedudukan yang sangat penting di sisi kaum muslimin. Shalat ini merupakan tempat perkumpulan paling agung dan paling besar dibanding yang lainnya selain hari Arafah. Barangsiapa yang meninggalkan ibadah ini sengaja tanpa udzur, Allah Ta’ala akan menutup hatinya. Dan karena sangat pentingnya Nabi bahkan berkeinginan untuk membakar rumah orang-orang ini.

Sebaliknya orang yang menunaikannya akan mendapatkan banyak keutamaan, seperti dihapuskannya dosa. Bahkan dekatnya seorang penduduk Surga pada hari Kiamat sesuai dengan kedekatan dan bersegeranya mereka tehadap imam shalat pada hari Jum’at.

Meskipun begitu besar kedudukan shalat Jum’at, sayang saat dilaksanakannya shalat ini, masih banyak kaum muslimin yang menyelsihi tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pertanyaan-Pertanyaan Penting

Buku ini berisi soal-jawab yang ditujukan kepada penulis, dan diprakarsai oleh Yayasan Masjid Raya Suriah. Di antara isinya:

  1. Apakah Anda berpendapat bolehnya mengikuti amalan Utsman radhiyallahu ‘anhu pada hari Jum’at, yaitu mengadakan  adzan kedua secara mutlak? Atau terbatas ketika ada sebab-sebab yang mendorong penghulu kita Utsman untuk melakukan adzan kedua tersebut, yaitu ketika beliau melihat jumlah manusia telah menjadi banyak dan telah tersibukkan dengan urusan mencari kehidupan (baca:bekerja)?!

Atau dengan kata lain; bila terdapat masjid dan tidak ada penduduk yang ada di sekitarnya, tidak pula ada pasar, tidak pula ada imam rawatibnya dan tidak ada pula tempat adzannya! Seperti masjid-masjid yang ada di dalam Tsukanah al-Humaidiyyah (Masjid Raya Damaskus). Apakah Anda berpandangan hendaknya di sana diberlakukan berdasarkan tuntunan Utsman? Atau mencukupkan dengan satu adzan sebagaimana yang terjadi pada masa Rasulullah dan dua sahabatnya (Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma)?

  1. Bila khutbah dan adzan dikumandangkan dari masjid tersebut dengan mikrofon, apakah Anda berpendapat bahwa yang demikian ini merubah urusan agama? Sebagaimana bila dikatakan bahwasanya adzannya Utsman tidak dibutuhkan lagi pada masjid yang seperti ini, yaitu yang jauh dari perumahan dan pasar. Akan tetapi karena siaran adzan (dengan pengeras suara) akan mengembalikan kepadanya tujuan pengumandangan dan penyampaiannya ke seluruh pelosok, maka wajib mengamalkannya?

Atau dikatakan: Karena siaran adzan (dengan pengeras suara) menjamin pemberitahuan dengan mengumandangkan  satu adzan, sehingga tidak butuh lagi kepada adzan yang lain?

  1. Apakah adzan kedua -yang disyariatkan Rasulullah- tempatnya di depan mimbar atau di atas pintu masjid yang lurus dengan mimbar? Bila dilakukan adzan lain, yaitu adzan Utsman, apakah tempatnya di atas pintu?
  2. Bila adzannya hanya satu kali, maka kapankah waktunya? Apakah waktunya itu adalah di awal waktu zhuhur atau kapan? Apabila demikian, dan waktunya adalah ketika khatib naik mimbar, maka kapankah dilakukannya shalat sunnah qabliyyah bila memang ada? Apakah dilakukan shalat sunnah qabliyah setelah masuknya waktu tanpa didahului adzan kemudian khatib naik mimbar dan muadzin mengumandangkan adzan atau bagaimana? (Selengakapnya pada hal.29-30)

Buku cetak edisi softcover, tebal buku 135 halaman, ukuran buku 14 x 20,5 cm, dan dengan berat 352 gram.
Penulis: Syaikh Nashiruddin Al-Albani
Penerbit: Gema Ilmu