Buku Syarah Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah

Buku Syarah Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 93.000,00
Rp 74.000
You save: IDR 19.000,00! (20.43%)

Product Description

Buku Syarah Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah

Buku Syarah Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah-Tahukah Anda tentang mizan? Kita wajib mengimani pemberitahuan Allah dan Rasul-Nya bahwa amalan-amalan manusia akan ditimbang pada hari Kiamat dengan timbangan kebenaran dan keadilan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (Surat al-Anbiya’: 47)

Mizan ini adalah timbangan hakiki, dan memiliki dua sisi timbangan. Ibnu Qayyim berkata dalam asy-Syafiyah al-Kafiyah, “Apa kau tidak percaya bahwa amalan-amalan para hamba di tempatkan pada hari pemberitahuan di dalam mizan. Kadang berat dan kadang ringan. Hal itu ada dalilnya di dalam al-Qur’an. Ia memiliki lisan dan dua sisi yang menakar amalan. Dua sisi timbangan yang melihatnya itu bukanlah hal maknawi, tapi nyata dan benar bagi orang yang punya iman.”

Shirath

Di antara perkara-perkara hari Kiamat yang wajib diimani adalah shirath atau jembatan yang dipasang Allah di atas Neraka Jahanam yang menghubungkan ke Surga. Siapa dapat melintas dengan mudah dan selamat, ia masuk Surga. Dan siapa tergelincir, ia binasa dan jatuh ke dalam Neraka. Dan Neraka adalah seburuk-buruk tempat menetap. Semoga Allah berkenan melindungi kita semua dari kondisi para penghuni Neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيُضْرَبُ جِسْرُ جَهَنَّمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ وَدُعَاءُ الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ وَبِهِ كَلَالِيبُ مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ أَمَا رَأَيْتُمْ شَوْكَ السَّعْدَانِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهَا مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ غَيْرَ أَنَّهَا لَا يَعْلَمُ قَدْرَ عِظَمِهَا إِلَّا اللَّهُ فَتَخْطَفُ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ رواه البخاري

“Dan dibentangkanlah jembatan Jahannam. Akulah orang pertama yang melewatinya. Doa para rasul pada saat itu: “Ya Allâh, selamatkanlah, selamatkanlah”. Pada shirath itu, terdapat pencangkok-pencangkok seperti duri pohon Sa’dan. Pernahkah kalian melihatnya?” Para Sahabat menjawab, “Pernah, wahai Rasûlullâh. Maka ia seperti duri pohon Sa’dan, tiada yang mengetahui ukuran besarnya kecuali Allah. Maka ia mencangkok manusia sesuai dengan amalan mereka.” (HR. al-Bukhari)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Lalu diutuslah amanah dan rahim (tali persaudaraan) keduanya berdiri di samping kiri-kanan shirath tersebut. Orang yang pertama lewat seperti kilat”. Aku bertanya: “Dengan bapak dan ibuku (aku korbankan) demi engkau. Adakah sesuatu seperti kilat?” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Tidakkah kalian pernah melihat kilat bagaimana ia lewat dalam sekejap mata? Kemudian ada yang melewatinya seperti angin, kemudian seperti burung dan seperti kuda yang berlari kencang. Mereka berjalan sesuai dengan amalan mereka. Nabi kalian waktu itu berdiri di atas shirath sambil berkata: “Ya Allah selamatkanlah! selamatkanlah! Sampai para hamba yang lemah amalannya, sehingga datang seseorang lalu ia tidak bisa melewati kecuali dengan merangkak”. Beliau menuturkan (lagi): “Di kedua belah pinggir shirath terdapat besi pengait yang bergatungan untuk menyambar siapa saja yang diperintahkan untuk disambar. Maka ada yang terpeleset namun selamat dan ada pula yang terjungkir ke dalam Neraka.” (HR. Muslim)

Buku Syarah Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah

Buku Syarah Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah-Tahukah Anda tentang mizan? Kita wajib mengimani pemberitahuan Allah dan Rasul-Nya bahwa amalan-amalan manusia akan ditimbang pada hari Kiamat dengan timbangan kebenaran dan keadilan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (Surat al-Anbiya’: 47)

Mizan ini adalah timbangan hakiki, dan memiliki dua sisi timbangan. Ibnu Qayyim berkata dalam asy-Syafiyah al-Kafiyah, “Apa kau tidak percaya bahwa amalan-amalan para hamba di tempatkan pada hari pemberitahuan di dalam mizan. Kadang berat dan kadang ringan. Hal itu ada dalilnya di dalam al-Qur’an. Ia memiliki lisan dan dua sisi yang menakar amalan. Dua sisi timbangan yang melihatnya itu bukanlah hal maknawi, tapi nyata dan benar bagi orang yang punya iman.”

Shirath

Di antara perkara-perkara hari Kiamat yang wajib diimani adalah shirath atau jembatan yang dipasang Allah di atas Neraka Jahanam yang menghubungkan ke Surga. Siapa dapat melintas dengan mudah dan selamat, ia masuk Surga. Dan siapa tergelincir, ia binasa dan jatuh ke dalam Neraka. Dan Neraka adalah seburuk-buruk tempat menetap. Semoga Allah berkenan melindungi kita semua dari kondisi para penghuni Neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيُضْرَبُ جِسْرُ جَهَنَّمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ وَدُعَاءُ الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ وَبِهِ كَلَالِيبُ مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ أَمَا رَأَيْتُمْ شَوْكَ السَّعْدَانِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهَا مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ غَيْرَ أَنَّهَا لَا يَعْلَمُ قَدْرَ عِظَمِهَا إِلَّا اللَّهُ فَتَخْطَفُ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ رواه البخاري

“Dan dibentangkanlah jembatan Jahannam. Akulah orang pertama yang melewatinya. Doa para rasul pada saat itu: “Ya Allâh, selamatkanlah, selamatkanlah”. Pada shirath itu, terdapat pencangkok-pencangkok seperti duri pohon Sa’dan. Pernahkah kalian melihatnya?” Para Sahabat menjawab, “Pernah, wahai Rasûlullâh. Maka ia seperti duri pohon Sa’dan, tiada yang mengetahui ukuran besarnya kecuali Allah. Maka ia mencangkok manusia sesuai dengan amalan mereka.” (HR. al-Bukhari)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Lalu diutuslah amanah dan rahim (tali persaudaraan) keduanya berdiri di samping kiri-kanan shirath tersebut. Orang yang pertama lewat seperti kilat”. Aku bertanya: “Dengan bapak dan ibuku (aku korbankan) demi engkau. Adakah sesuatu seperti kilat?” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Tidakkah kalian pernah melihat kilat bagaimana ia lewat dalam sekejap mata? Kemudian ada yang melewatinya seperti angin, kemudian seperti burung dan seperti kuda yang berlari kencang. Mereka berjalan sesuai dengan amalan mereka. Nabi kalian waktu itu berdiri di atas shirath sambil berkata: “Ya Allah selamatkanlah! selamatkanlah! Sampai para hamba yang lemah amalannya, sehingga datang seseorang lalu ia tidak bisa melewati kecuali dengan merangkak”. Beliau menuturkan (lagi): “Di kedua belah pinggir shirath terdapat besi pengait yang bergatungan untuk menyambar siapa saja yang diperintahkan untuk disambar. Maka ada yang terpeleset namun selamat dan ada pula yang terjungkir ke dalam Neraka.” (HR. Muslim)

Buku cetak edisi hardcover, tebal buku 354 halaman, ukuran buku 15,5 x 23,5 cm, dan dengan berat 580 gram.
Penulis: Syaikh Dr. Ahmad Farid
Penerbit: Fatiha