Buku Shalat Dhuha : Tuntunan Lengkap Disertai Keutamaannya, Waktunya, & Faedahnya (Pustaka Ibnu Umar)

Buku Shalat Dhuha : Tuntunan Lengkap Disertai Keutamaannya, Waktunya, & Faedahnya (Pustaka Ibnu Umar)

Beli Produk Ini

Rp 8.000

Product Description

Buku Shalat Dhuha (Tuntunan Lengkap Disertai Keutamaannya, Waktunya, & Faedahnya), Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani, Pustaka Ibnu Umar

Di kala pagi menjelang, sayup-sayup suara burung bersahutan, matahari mulai menyingsing, merekahkan senyumnya, menyambut para hamba-hamba Allah Ta’ala yang tengah beraktifitas. Utamanya mereka yang bertakwa, ahli taat lebih baik dari lawannya. Sungguh, para hartawan diberi anugerah untuk berinfaq dengan kelebihan hartanya, sedangkan orang yang tidak berpunya, kadang bingung, terus mau apa. Hal ini pernah diungkap di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Saat itu para fuqara’ mengadu kepada Rasulullah tentang sedekah yang dilakukan oleh orang-orang Kaya. Lalu Rasulullah memberikan solusi untuk melakukan amal yang bisa menyamai mereka. Ternyata eh ternyata, orang-orang kaya pun mendengar dan melakukannya pula. Hingga akhirnya Rasulullah bersabda, “Itulah anugerah Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.”

Begitu banyak keutamaan shalat Dhuha, barangkali hal ini bisa menjadi pelecut semangat bagi kita untuk kembali meraih kelezatan iman dengan bertakwa kepada-Nya; melalui merutinkan shalat Dhuha. Shalat Dhuha hukumnya tidak wajib, melainkan sunnah muakkadah (sangat ditekankan). Berikut ini di antaranya,

Pertama, shalat Dhuha termasuk wasiat Rasulullah. Abu Hurairah berkata,

أَوْصَانِى خَلِيلِى – صلى الله عليه وسلم – بِثَلاَثٍ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى ، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

“Kekasihku –yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- mewasiatkan tiga nasehat padaku: Berpuasa tiga hari setiap bulannya, Melaksanakan shalat Dhuha dua raka’at, dan Berwitir sebelum tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, sedekah yang mencukupi, dari Buraidah, beliau mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فِى الإِنْسَانِ سِتُّونَ وَثَلاَثُمِائَةِ مَفْصِلٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهَا صَدَقَةً. قَالُوا فَمَنِ الَّذِى يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا أَوِ الشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ عَنْكَ

“Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah.” Para sahabat pun mengatakan, “Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka’at.” (HR. Ahmad)

Sedikit catatan, buku ini ditulis oleh penulis buku Best Seller “Hisnul Muslim” dan karya-karyanya sangatlah banyak. Beliau menyertakan pendapat kedua gurunya yakni Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumallah yang terangkum dalam fatwa Lajnah Daa’imah. Semoga Allah memberkahi apa yang kita ketahui dan memberikan taufik kepada kita untuk mudah mengamalkannya. Aaamiin.