Buku Saku Tuntunan Praktis Shalat Berjama’ah

Buku Saku Tuntunan Praktis Shalat Berjama’ah

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 8.000,00
Rp 6.800
You save: IDR 1.200,00! (15.00%)

Product Description

Buku Saku Tuntunan Praktis Shalat Berjama’ah

Shalat berjama’ah adalah shalat yang dikerjakan secara bersama-sama dengan cara yang disyari’atkan (ada imam dan ada pula makmumnya, dikerjakan di masjid dan bukan dikerjakan di rumah). Shalat berjama’ah mempunyai keutamaan yang besar, dan oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan dorongan untuk melakukannya dan menjelaskan keutamaannya dalam sejumlah hadits.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat jama’ah itu senilai dengan 25 shalat. Jika seseorang mengerjakan shalat ketika dia bersafar, lalu dia menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, maka shalatnya tersebut bisa mencapai pahala  50 shalat.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Dalam hadits yang lain, “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan Rasulullah mengancam akan membakar rumah dari orang yang enggan untuk mendatangi shalat berjama’ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat ‘Isya dan shalat Shubuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian aku menugaskan seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan para sahabat sendiri mencerca keadaan orang-orang yang meninggalkannya, Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Menurut pendapat kami (para sahabat), tidaklah seseorang itu tidak hadir shalat jamaah, melainkan dia seorang munafik yang sudah jelas kemunafikannya. Sungguh dahulu seseorang dari kami harus dipapah di antara dua orang hingga diberdirikan si shaff (barisan) shalat yang ada.” (HR. Muslim)

Dan tentunya, seseorang akan menuju fitrah yang bersih, ia rela menghilangkan daki yang menempel di tubuhnya dengan mandi dua kali sehari (pagi dan sore). Lalu bagaimana pandanganmu terhadap shalat berjama’ah, bukankah padanya ada keutamaan yang besar? Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu,

مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ». قَالَ قَالَ الْحَسَنُ وَمَا يُبْقِى ذَلِكَ مِنَ الدَّرَنِ

“Permisalan shalat yang lima waktu itu seperti sebuah sungai yang mengalir melimpah di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al-Hasan berkata, “Tentu tidak tersisa kotoran sedikit pun (di badannya).” (HR. Muslim)

Penulis Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, Pustaka Ibnu Umar.