Buku Saku Apa Itu Bid’ah?

Buku Saku Apa Itu Bid’ah?

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 8.000,00
Rp 6.800
You save: IDR 1.200,00! (15.00%)

Product Description

Buku Saku Apa Itu Bid’ah?

Bid’ah bagi sebagian orang di zaman now adalah momok yang ditakutkan, seakan-akan membahasnya akan mencerai-beraikan umat. Padahal umat-umat terdahulu terselamatkan berkat jasa para ulama’ dalam menjaga agama ini dengan memperingatkan umat atasnya. Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu mewasiatkan, “Setiap peribadatan yang tidak dilakukan oleh para sahabat Rasulullah, maka janganlah kalian lakukan. Karena, generasi awal itu tidak melewatkan satu perkataan pun untuk generasi berikutnya. Takutlah kepada Allah, wahai para pembaca al-Qur’an. Ambillah jalan orang-orang terdahulu kalian.”

Apa Itu Bid’ah? Bid’ah secara istilah adalah suatu jalan dalam agama, yang baru diada-adakan (artinya tidak ada dasar atau dalilnya dalam syari’at), dan bersifat menyaingi (disetarakan) dengan syari’at, dengan maksud untuk lebih mantap dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan khotbah dan dikenal dengan sebutan Khotbah Hajah, dan di antara isinya ialah, ...

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim, no. 867)

Dan wasiat yang agung pernah dituturkan Rasulullah kepada para sahabat-sahabatnya, seolah-olah nasehat perpisahan, meneteslah air mata karenanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2676)

Setelah mendefiniskan bid’ah, penyusun membagi bid’ah menjadi dua; bid’ah haqiqi dan bid’ah idhafiyah (hal. 16-25). Disusul pada bagian kedua dengan bab Pandangan Ahlussunnah wal Jama’ah Seputar Ahli Bid’ah dan Orang yang Mengikuti Hawa Nafsu (Ahlul Ahwa’) pada hal. 26-64 dengan rincian sub bab untuk memperjelas maksud pembahasan.

Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, Pustaka Ibnu ‘Umar.