Buku Panduan Praktis Shalat Istikharah Berdasarkan Sunnah Nabi (Pustaka Ibnu Umar)

Buku Panduan Praktis Shalat Istikharah Berdasarkan Sunnah Nabi (Pustaka Ibnu Umar)

Beli Produk Ini

Rp 8.000

Product Description

Buku Panduan Praktis Shalat Istikharah Berdasarkan Sunnah Nabi, Pustaka Ibnu Umar

Buku saku yang sangat praktis dan cocok untuk dibawa ke mana saja, inilah kutaib yang merupakan ringkasan dari kitab-kitab para ulama, di antaranya Shalaatul Istikhaarati Ahkamun Muhimmatun Jiddan li Itqanihaa karya Sanad bin ‘Ali bin Ahmad al-Baidhani, dan Kasyfus Sitaarah ‘an Shalaatil Istikharah karya Syaikh Abu ‘Umar dan ‘Abdullah bin Muhammad al-Humaidi.

Apa yang Anda Ketahui tentang Istikharah?

Istikharah bukan semata-mata shalat dua raka’at yang diakhiri do’a khusus semata, sebagaimana dipahami oleh kebanyakan orang awam. Akan tetapi istikharah adalah suatu ibadah yang mengandung berbagai amal-amal hati dengan tuntutan-tuntutannya. Dan ibadah yang demikian itu sangat membutuhkan Itqaan (kemantapan), keyakinan dan pemahaman yang sempurna), agar seorang hamba dapat memetik buahnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَ هَمَّ أَحَدُ كُمْ بِاْلأَمْرِ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيْضَةِ

“Jika salah seorang di antara kalian berkeinginan keras untuk melakukan sesuatu, maka hendaklah dia mengerjakan shalat dua rakaat di luar shalat wajib, …” (HR. Bukhari)

Perkataan Ulama Terkait Istikharah

Imam Abu Zakariyya an-Nawawi rahimahullah berkata, “Shalat istikharah itu disunnahkan dalam semua urusan, sebagaimana gamblang dalam nash hadits ini.”

Imam al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Shalat istikharah ini mencakup perkara-perkara besar maupun perkara-perkara kecil. Berapa banyak perkara kecil menjadi sumber perkara yang lebih besar darinya?”

Syaikh az-Zamlakani berkata, “Bila seseorang melaksanakan shalat istikharah diua raka’at untuk suatu hal, maka hendaknya setelah itu dia melakukan apa yang tampak olehnya, baik hatinya merasa senang maupun tidak, karena padanya kebaikan itu berada sekalipun jiwanya tidak menyukainya.”

Renungan

Hakikat suatu masalah, tak ada yang mengerti selain Allah Azza wa Jalla. Pengaturan Sang Pencipta kepada makhluk-Nya adalah lebih baik bagi mereka daripada pengaturan mereka terhadap diri mereka sendiri. Dan keputusan-Nya adalah lebih baik bagi mereka dariapda prasangka mereka. Seorang hamba wajib berprasangka baik kepada Allah. Yakin kepada-Nya secara tulus. Pasrah terhadap hukum-Nya, dan memposisikan jiwa untuk bersabar atas keputusan-Nya, ridha terhadap takdir-Nya. Allah Ta’ala tidak memutuskan bagi seorang hamba mukmin selain kebaikan semata. Jika ia sampai derajat iman seperti ini, maka lebih mendatangkan manfaat baginya daripada tujuan duniawi dan materi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Buku Panduan Praktis Shalat Istikharah Berdasarkan Sunnah Nabi, Penulis Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, Penerbit Pustaka Ibnu Umar, format buku softcover, tebal buku 64 halaman, ukuran buku 9 cm x 14 cm, berat 100 gram