Buku Nikah Sirri

Buku Nikah Sirri

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 33.000,00
Rp 26.400
You save: IDR 6.600,00! (20.00%)

Product Description

Buku Nikah Sirri

Ribut-ribut soal nikah sirri seakan tidak ada ujungnya, lalu ditambah lagi soal poligami. Ada yang pro dan ada yang kontra. Mengapa mesti pusing, jika syari’at yang mulia ini telah mengaturnya. Stop resah dengan pemberitaan publik! Kembalilah kepada majelis ilmu dan merujuk kepadanya.

Buku yang sangat indah ini memaparkan nikah sirri dari asal-usulnya, hukum-hukum yang terkait dengannya, pendapat para ulama tentangnya, dampak positif dan dampak negatifnya, nasehat-nasehat seputar nikah sirri, dan mengapa nikah itu harus dicatat di Kantor Urusan Agama (KUA)? Semua problem tersebut dibahas tuntas hingga ke akar-akarnya.

Buku yang ditulis oleh dua penulis yang berbeda usia, namun matang dalam ilmu ini mencoba mengurai benang kusut agar lurus kembali. Beliau adalah Muhammad Musthafa Luthfi bin Safrun Idrus yang pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Gontor, lalu belajar ke luar negeri; Universitas al-Azhar Kairo dan melanjutkan ke Universitas Yemenia. Sedangkan penulis yang satu jauh lebih muda, terpaut 17 tahun. Beliau adalah Mulyadi Lutfi, yang pernah kuliah di Universitas al-Ahgaff, Hadramaut Yaman dan Universitas al-Iman, San’a Yaman. Semoga Allah memberkahi ilmu keduanya.

Apa Itu Nikah Sirri?

Para ulama salaf tidak memberikan batasan tertentu tentang nikah sirri, namun mereka telah membahasnya secara substansi menyangkut beberapa masalah yang berkaitan dengan akad pernikahan dalam bab nikah. Sedangkan ulama kontemporer mendefinisikannya sebagai berikut:

Tidak tercatat secara resmi di badan yang berwenang, kesaksian para saksi yang dirahasiakan (baik pernikahan tersebut dicatat secara resmi maupun tidak), pernikahan tanpa saksi, pernikahan tanpa saksi dan wali.

Poligami dan Nikah Sirri Versus Selingkuh dan Lokalisasi

Tanpa mengesampingkan dampak buruk (madharat) dari nikah sirri pada zaman sekarang ini, pernikahan ini tetaplah merupakan sebuah pernikahan yang sah asalkan pernikahan tersebut memenuhi syarat dan rukun pernikahan  walaupun tidak dicatatkan di KUA. Seperti pernikahan sirri, poligami merupakan hal yang diperbolehkan dalam Islam, asalkan sang suami bisa bersikap adil terhadap istri-istrinya. Poligami sangat erat kaitannya dengan pernikahan sirri dan agak sulit terpisahkan, karena biasanya poligami dilakukan dengan cara sirri.

Poligami adalah ketetapan syari’at bagi kebaikan umat manusia yang hukumnya jaiz (boleh). Jadi, jika enggan melaksanakan poligami, tidak masalah, selama tidak menggugat hukumnya yang telah ditetapkan Allah. Jika banyak wanita yang menolak diduakan atau ditigakan atau diempatkan, tidak menjadi masalah, cukuplah sebatas itu, tidak usah membencinya apalagi menggugat hukumnya. Bicara masalah selingkuh dibandingkan dengan poligami dan nikah sirri dalam kontek ini. Pelarangan poligami sebenarnya malah membuka peluang lebar bagi pelecehan seksual atas kaum wanita. (Selengkapnya hal.126-141)

Penulis Dr. M. Musthafa Luthfi, dan Mulyadi Luthfy R, Lc, Penerbit WIP.