Buku Muhammad al Fatih

Buku Muhammad al Fatih

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 69.000,00
Rp 55.000
You save: IDR 14.000,00! (20.29%)

Product Description

Buku Muhammad al Fatih

Melihat perjalanan sejarah, rasanya tidak berlebihan jika menyebut Sultan Muhammad II bin Murad II ---yang dijuluki al-Fatih--- sebagai titik tolak kemajuan Daulah Utsmaniyah. Ia telah membawa Daulah ini dari fase ‘biasa’ menuju fase perkembangan dan kemajuan yang mungkin belum pernah diimpikan oleh Utsman I bin Ertugel ketika mendirikan negara Turki Utsmani pada tahun 1299.

Salah satu momen terpenting adalah ketika Turki Utsmani berhasil menaklukkan Konstantinopel. Konstantinopel bukanlah wilayah biasa yang sekedar menambah luas wilayah kekuasaan dan menggeser tapal batas negara ketika takluk. Konstantinopel adalah ibu kota Imperium Bizantium. Kota tersebut adalah ibu kota Imperium Bizantium. Kota tersebut adalah kota tua yang mapan dan selama ratusan tahun menjadi pusat Kekaisaran Romawi Timur sejak didirikan oleh Kaisar Konstantin pada tanggal 13 Mei 330 M.

Sejarah mencatat bahwa Konstantinopel merupakan kota terbesar dan termakmur pada rentang waktu antara pertengahan abad ke-5 hingga permulaan abad ke-13 masehi. Posisinya cukup stratejik; berada di jalur utama perdagangan antara laut Aegea dan Laut Hitam serta di titik hubung antara Benua Asia dan Benua Eropa. Di samping itu, Konstantinopel merupakan kota pusat keagamaan Kristen Ortodoks Timur.

Dalam tatanan dunia lama, penaklukan Konstantinopel bisa berarti menegaskan posisi Daulah Utsmaniyah sebagai negara kuat di mata dunia. Keberhasilan Turki Utsmani meruntuhkan Bizantium menjadikan kekuatan politik dunia dari manapun untuk berhitung ulang jika ingin berkonfrontasi dengan Daulah Utsmaniyah.

 

Sebenarnya, upaya kaum muslimin untuk menaklukan Konstantinopel bukan baru dimulai pada era Muhammad al-Fatih. Sejak masa pemerintahan Khalifah Mu’awiyah dari bani Umayyah, kaum muslimin sudah dilakukan upaya penaklukan, yaitu lewat pengepungan pada tahun 674-678 M, kemudian tahun 717-718 M. Namun, Allah menakdirkan bahwa Konstantinopel tidak takluk di tangan generasi para sahabat Nabi, tetapi di tangan kaum muslimin yang dipimpin oleh Sultan Muhammad al-Fatih.

 

Sebagai seorang muslim, ketika mendengar hadits yang berbunyi, “Kalian akan membebaskan Konstantinopel, sehebat-hebat pemimpin adalah pemimpinnya, dan sekuat-kuat pasukan adalah pasukannya,” al-Fatih menganggapnya sebagai bentuk kabar gembira yang menginspirasi sekaligus motivasi. Ia menyadari bahwa untuk meraih kemenangan istimewa dibutuhkan persiapan dan kualifikasi khusus karena mewujudkan ‘sehebat-sehebat pemimpin’ serta ‘sekuat-kuat pasukan’ bukanlah hal yang sederhana.

Buku ini hadir dalam rangka memotret perjalanan hidup sosok Muhammad al-Fatih. Sejak dari zaman kelahirannya ketika Sultan Murad II memerintah hingga menjelang wafatnya. Tentu saja, tak terlewatkan momen bagaimana akhirnya al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tanggal 29 Mei 1453 M,; dari persiapan perang, pengepungan selama 54 hari, hingga pengambil alihan dan pemulihan kota tersebut setelah ditaklukkan.

Penulis Dr. Muhammad Ali ash-Shallabi, Penerbit Aqwam

Ukuran: 14,5 cm x 20,5 cm, Cover: Soft Cover, Berat: 550 Gram

Tebal: 410 halaman