Buku Lembutnya Dakwah Ahlus Sunnah

Buku Lembutnya Dakwah Ahlus Sunnah

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 30.000,00
Rp 25.500
You save: IDR 4.500,00! (15.00%)

Product Description

Buku Lembutnya Dakwah Ahlus Sunnah

Buku apa ini? Barangkali ada yang bertanya-tanya … Buku ini menyadarkan kita bahwasanya teramat banyak nikmat yang kita abaikan, seperti nikmat dapat berbicara. Dan terkadang justru kita menceburkan diri ke dalam kebinasaan dengan melakukan su’udzan (buruk sangka) dan mencari-cari kesalahan. Sikap yang benar ialah semestinya ahlus sunnah saling merahmati dan berlemah lembut terhadap sesama mereka dan sikap yang benar dalam menghadapi fenomena tahdzir dan hajr yang memporak-porandakan dakwah di bumi persada (karena dilakukan oleh orang yang bukan ahlinya).

Buku ini disusun oleh Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad bin ‘Utsman al-’Abbad Alu Badr. Beliau lahir pada tanggal 3 Ramadhan, tahun 1353 H, di daerah Zulfa (300km dari utara Riyadh). Beliau tumbuh di bawah asuhan masyaikh Zukfa dan mempelajari berbagai disiplin ilmu di sana. Hingga akhirnya, beliau menjadi dosen di Universitas al-Madinah, bahkan sempat diangkat menjadi wakil rektor oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah.

Guru beliau ada banyak jumlahnya, hal ini menunjukkan bahwasanya agar seseorang tidak mencukupkan diri dengan seorang guru. Imam Bukhari saja pernah menjumpaiseribu orang guru. Adapun Syaikh al-’Abbad ini pernah berguru kepada Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad al-Mani’, Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi, Syaikh ‘Abdur Razaq Afifi, dan lain sebagainya. Sedangkan murid-murid beliau, di antaranya Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdillah al-Jabiri, dan Syaikh ‘Ashim bin ‘Abdullah Alu Ma’mar al-Qaryuthi.

Selain memaparkan pembahasan dengan gamblang, di akhir buku, penyusun menyajikan beragam pertanyaan kekinian, semoga bermanfaat bagi dunia Islam!

Bangkrut Di Depan Mata

Orang-orang yang membeberkan kejelekan orang lain akan dihadapkan padanya hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang bangkrut) itu?” Para sahabat menjawab, ”Muflis (orang yang bangkrut) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Muflis (orang yang bangkrut) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam Neraka.” (HR. Muslim).

Penulis Abdul Muhsin al-Abbad, Pustaka Dhiya’ul Ilmi.