Buku Kayu Siwak Lebih Dari Sekadar Odol Dan Sikat Gigi

Buku Kayu Siwak Lebih Dari Sekadar Odol Dan Sikat Gigi

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 22.000,00
Rp 18.500
You save: IDR 3.500,00! (15.91%)

Product Description

Buku Kayu Siwak Lebih Dari Sekadar Odol Dan Sikat Gigi

Buku Kayu Siwak Lebih Dari Sekadar Odol Dan Sikat Gigi-Tahukah Anda tentang siwak? Siwak diambil dari sebuah pohon yang dikenal dengan nama pohon arak. Secara ilmiah, pohon arak disebut Salvadora Persica dari Famili Arak. Arak merupakan pohon subtropis yang berusia panjang, mempunyai dahan yang berdaun, aroma khas, dan rasa yang pedas karena mengandung zat yang serupa dengan mustar.

Pohon arak dapat ditemukan di beberapa daerah seperti Gunung Sinai, Sudan, India Timur, Arab Saudi, Yaman, dan Afrika. Pohon ini menyerupai pohon delima dan selalu hijau di sepanjang musim. Ia mempunyai daun-daun yang sangat hijau, bunga-bunga kecil berwarna putih, dan buah-buah berbentuk tandan menyerupai buah anggur. Pohon begitu besar, sehingga satu pohon saja bagaikan hutan karena rantingnya yang lebat. Pohon arak adalah pohon yang pendek, panjang batangnya tidak lebih dari satu kaki. Ujung-ujungnya seperti dipintal, daunnya berkilau, dan batangnya berbentuk keriting, berwarna coklat muda. Sedangkan bagian yang digunakan untuk bersiwak adalah inti akar yang diperoleh dengan menggali tanah dan mengumpulkan dahan tersebut dalam berbagai macam ukuran. Akar yang berbeda ukuran itu, dipotong dan disamakan ketebalannya sesuai dengan ukuran pada umumnya di pasar-pasar dan tempat lainnya. Setelah itu, dikeringkan terlebih dahulu kemudian disimpan ditempat yang jauh dari kelembaban.

Bersiwak Pada Bulan Ramadhan

Mayoritas ulama berkata, “Bersiwak dianjurkan bagi orang yang berpuasa sebagaimana berlaku keangdaan yang lain, baik pada pagi maupun sore hari.” Mereka berdalil pada hadits ya diriwayatkan oleh Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ مَا لاَ أُحْصِي يَتَسَوَّكُ وَهُوَ صَائِمٌ

“Aku telah melihat Rasulullah apa yang tidak bisa aku menghitungnya yaitu beliau bersiwak dan beliau dalam keadaan berpuasa.” (Hadits riwayat Abu Dawud)

Namun hadits ini dha’if dan tidak bisa dijadikan hujjah. (Lihat Irwaul Ghalil no 68)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Tidak ada alasan untuk menghindari dari bersiwak pada bulan Ramadhan, baik pada siang hari maupun waktu-waktu yang lain ketika seseorang sedang berpuasa, karena hukum bersiwak adalah sunnah. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih,

السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ (رواه أحمد)

“Siwak merupakan kebersihan bagi mulut dan keridhaan bagi Rabb.” (Hadits shahih riwayat Ahmad, Irwaul Ghalil; no. 66)

Anjuran ini lebih ditekankan pada saat akan berwudhu, mendirikan shalat, bangun tidur, saat akan memasuki rumah, serta setelah sahur, dan waktu lainnya. Bersiwak tidak akan merusak puasa kecuali jika pada siwak tersebut terdapat rasa yang tersisa pada ludah; hendaknya engkau tidak menelan rasa itu. Demikian pula, jika keluar darah dari gusi karena bersiwak, hendaknya engkau tidak menelan darah itu. Sehingga, apabila engkau menjaga diri dari hal-hal tersebut, niscaya tidak akan memengaruhi puasamu sedikitpun.”

Buku cetak edisi softcover, tebal buku 88 halaman, ukuran buku 15 x 19 cm, dan dengan berat 250 gram.
Penulis: Abdullah Halim Al-Katib
Penerbit: Thibbia