Buku Kamus Jama’ Taksir

Buku Kamus Jama’ Taksir

Beli Produk Ini

Rp 20.000

Product Description

Buku Kamus Jama’ Taksir

Jamak taksir adalah sebuah bentuk jamak yang tidak beraturan, sesuai dengan kebiasaan orang arab. Oleh karena itu, mengetahuinya hanya bisa diraih dengan banyak membaca. Terlebih dengan adanya kamus khusus untuknya, akan memudahkan para pengguna untuk mengaplikasikannya.

Macam-Macam Jamak

Isim Jamak adalah Isim yang jumlah bilangannya lebih dari dua. Isim Jamak tebagi menjadi tiga:

– Jamak Mudzakkar Salim

– Jamak Muannats Salim

– Jamak Taksir

Contoh Jamak Taksir:

القَرْنُ قُرُوْنٌ Abad

عِبَادٌ العَبْدُ Hamba

خُدَّامٌ الخَادِمُ Pelayan

أَخْلَاقٌ الخُلُقُ Tingkah laku

عُبَّادُ عَابِدٌ Yang beribadah

Pentingnya Menambah Kosa Kata (Mufradat)

Mufradat adalah salah satu hal yang paling penting untuk meningkatkan maharat al-Kalam (kemampuan berbicara) kita. Orang berbicara pasti akan menggunakan mufradat. Orang paham qawa’id, tapi tidak menghafalkan mufradat tentu untuk sulit berbicara. Sebaliknya, orang yang kurang paham qawa’id (tata bahasa) tapi banyak hafalan mufradat tentu bisa berbicara walaupun masih ada kesalahan.

Dalam bahasa Arab, ada kata tunggal dan kata jama’. Jama’ dalam bahasa Arab ada yang beraturan, yang sering kita kenal dengan istilah jama’ Taksir. Sering kita temui para pelajar rata-rata menghafalkan kata bentuk tunggal, dan mereka merasa kesulitan ketika mencari jama’ taksirnya. Dengan adanya kamus kecil ini, insya Allah sangat membantu dan memudahkan kita untuk mencari bentuk jama’nya suatu kata.

Motivasi Para Ulama

Imam Ayyub as-Sikhtiyani berkata, “Umumnya orang yang menyimpang mengikuti aliran sesat di kalangan penduduk Irak, karena mereka tidak paham bahasa Arab.” (Khutbah al-Kitab, Abu Syamah, hlm. 63).

Imam Ibnu Syihab az-Zuhri berkata, “Banyak masyarakat yang salah dalam mentakwilkan al-Quran, sebabnya adalah karena mereka tidak paham bahasa Arab.” (Khutbah al-Kitab, Abu Syamah, hlm. 63).

Imam Hasan al-Bashri berkata, “Mereka sesat karena bahasa selain arab. Mereka mentakwil al-Quran, tidak sesuai takwil yang benar.” (Syarh Mukhtashar ar-Raudhah, at-Thufi).

Imam asy-Sya’bi berkata, “Nahwu dalam ilmu itu seperti garam dalam makanan. Selalu dibutuhkan.” (Jami Bayan al-Ilmi, 2/325).

Imam Muhammad bin Hasan berkata, “Ayahku meninggalkan warisan untukku 30.000 dirham (sekitar 12,75 kg emas). Separuhnya, saya gunakan untuk belajar nahwu di kota Roy. Sisinya saya gunakan untuk belajar Fiqh.” (al-Ibar fi Khabar, 1/56).

Abu Raihan al-Bairuni berkata, “Saya dihina dengan bahasa arab, lebih baik dari pada saya dipuji pakai bahasa Persi.”

Disarikan dari Konsultasisyariah.com

Buku Kamus Jama’ Taksir

Penerbit Trimus Press

Kamus cetak edisi softcover, tebal 160 halaman, ukuran 10,5 x 16 cm, dan dengan berat 308 gram