Buku Islam Saat Istri Punya Penghasilan Sendiri

Buku Islam Saat Istri Punya Penghasilan Sendiri

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 45.000,00
Rp 36.000
You save: IDR 9.000,00! (20.00%)

Product Description

Buku Islam Saat Istri Punya Penghasilan Sendiri

Buku Islam Saat Istri Punya Penghasilan Sendiri-Dewasa ini banyak didapati wanita bekerja ke luar rumah karena kebutuhan, dan sebenarnya siapakah yang bertanggung jawab menafkahi mereka? Bagaimanakah Islam memandang gejala tersebut? Buku yang di susun oleh seorang ibunda ini mengupas secara perlahan (sistematis) tapi pasti (tepat sasaran). Beliau memulai dari definisi nafkah menurut etimologi dan terminologi, macam-macam dan sebab wajibnya nafkah.

Lalu pada bab kedua, beliau angkat bab ‘Nafkah syar’i untuk istri dan macam-macamnya. Berlanjut pada bab ke-3: Kondisi-kondisi Istri yang berhak dan tidak berhak untuk mendapatkan nafkah. Melaju kepada bab ke-4, suatu yang krusial dan nyata berani untuk diangkat yakni “Apa efek bila istri bekerja?”. Dan bab ini terdapat dua subbab yang saling menguatkan dan bisa dijadikan kesimpulan terhadap ulasan sebelumnya.

Sebagai tambahan wawasan, kami kutipkan artikel berikut, yang mana bisa dijadikan bahan pembanding terhadap buku ini:

Pekerjaan yang Cocok bagi Muslimah

Ketika syarat-syarat tersebut telah terpenuhi, maka wanita pun boleh keluar rumah bahkan untuk bekerja. Namun hendaknya dipahami lagi, jenis-jenis pekerjaan seperti apa yang boleh dilakukan oleh wanita, sesuai dengan aturan Islam.

Beberapa pekerjaan yang diperbolehkan bagi wanita, selama syarat-syarat untuk bekerja di luar rumah terpenuhi (bisa dibaca pada hal.110-112), diantaranya adalah:

  • Dokter, perawat, bidan, dan pekerjaan di bidang pelayanan medis lainnya, misalnya bekam, apoteker, pekerja laboratorium.
  • Dokter wanita menangani pasien wanita, anak-anak, dan juga lelaki dewasa. Untuk menangani lelaki dewasa, maka syaratnya adalah dalam keadaan darurat, misalnya saat peperangan, di mana laki-laki lain sibuk berperang, dan juga ketika dokter spesialis laki-laki tidak ditemui di negeri tersebut. Salah satu dalil yang membolehkannya adalah, dari ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz, dia berkata: “Dahulu, kami ikut bersama Nabi. Kami memberi minum dan mengobati yang terluka, serta memulangkan jasad (kaum muslimin) yang tewas ke Madinah.” (HR. al-Bukhari dalam Shahihnya (no 2882), Kitab “al-Jihaad was Sair”, Bab “Mudaawatun Nisaa’ al-Jarhaa fil Ghazwi”) Dalil lainnya adalah, dari Anas, dia berkata: “Dahulu, apabila Rasulullah pergi berperang, beliau membawa Ummu Sulaim dan beberapa orang wanita Anshar bersamanya. Mereka menuangkan air dan mengobati yang terluka.” (Muslim, ash-Shahiih (no. 181), Kitab “al-Jihaad was Sair”, Bab “Ghazwun Nisaa’ ma’ar Rijaal”) Imam Nawawi menjelaskan hadits di atas, tentang kebolehan wanita memberikan pengobatan hanya kepada mahram dan suami mereka saja. Adapun untuk orang lain, pengobatan dilakukan dengan tidak menyentuh kulit, kecuali pada bagian yang dibutuhkan saja.
  • Di bidang pengajaran (ta’lim), dibolehkan bagi wanita mengajar wanita dewasa dan remaja putri. Untuk mengajar kaum pria, boleh apabila diperlukan, selama tetap menjaga adab-adab, seperti menggunakan hijab dan menjaga suara.
  • Menenun dan menjahit, tentu ini adalah perkerjaan yang dibolehkan dan sangat sesuai dengan fitrah wanita. (Selengkapnya klik: muslimah.or.id/4498)

Buku cetak edisi softcover, tebal buku 185 halaman, ukuran buku 15 x 23 cm, dan dengan berat 271 gram.
Penulis: Hannah Abdul Aziz
Penerbit: Aqwam Jembatan Ilmu