Buku Fatwa Penting Sehari-Hari Pustaka as-Sunnah

Buku Fatwa Penting Sehari-Hari Pustaka as-Sunnah

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 185.000,00
Rp 148.000
You save: IDR 37.000,00! (20.00%)

Product Description

Buku Fatwa Penting Sehari-Hari Pustaka as-Sunnah

Syaikh al-Albani adalah orang yang gemar mencari kebenaran dan seorang peneliti dalil-dalil, ia sangat jauh dari sifat fanatik, taqlid, bertele-tele atau meremehkan orang-orang yang tidak sependapat dengannya. Bahkan Albani termasuk orang yang sangat hati-hati terhadap para pendukung akal. Albani termasuk orang yang gemar mendakwahkan untuk mengikuti sunnah. Beliau juga sangat hati-hati dari pendapat-pendapat yang nyeleneh atau dibuat-buat dan menyimpang dari ijtihad ahlu ‘ilmi dari kalangan salafus shalih.

Tidak diragukan lagi, bahwa ini (baca: kumpulan buku fatwa) merupakan perpanjangan tangan dari ‘madrasah’ keilmuan yang berusaha melempar jiwa taqlid dan mendahulukan dalil daripada pendapat-pendapat kebanyakan orang. ‘Madrasah’ inilah yang telah menjadi peta perjalanan dan pembelajaran Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang kemudian bendera ini dibawa oleh muridnya yang cerdas; Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah. Dan empat imam sebelum mereka (;Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad) telah berperan dalam ‘masalah’ ini. Mereka telah sepakat atas kewajiban berpegang teguh pada sunnah dan kembali kepadanya, serta meninggalkan semua pendapat yang menyelisihinya walaupun yang berpendapat adalah orang besar.

Oleh karenanya, Syaikh al-Albani memilih pendapat dan merajihkannya, walaupun menyelisihi pendapat mereka. Tetapi terkadang pendapatnya bersesuaian dengan salah satu mazhab, atau bisa juga sesuai dengan Syaikhul Islam atau mungkin kadangkala sesuai dengan pendapat Ibnu Hazm. Hal ini bukanlah suatu kehinaan atau aib. Kebenaran adalah yang lebih berhak untuk diikuti dan sunnah lebih berhak untuk dipegang.

Hukum Dua Raka’at Tahiyatul Masjid

Manakah yang kuat dalam masalah ini? Syaikh menjawabnya dalam halaman 161.

Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

“Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk.” (HR. al-Bukhari, no. 537 dan Muslim, no. 714)

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sulaik al-Ghathafani datang pada hari Jum’at, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah, dia pun duduk. Maka beliau langsung bertanya padanya, “Wahai Sulaik, bangun dan shalatlah dua raka’at, kerjakanlah dengan ringan.” Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian datang pada hari Jum’at, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka hendaklah dia shalat dua raka’at, dan hendaknya dia mengerjakannya dengan ringan.” (HR. al-Bukhari, no. 49 dan Muslim, no. 875)

Syaikh al-Albani berfatwa, “Hendaklah ia shalat dua raka’at sebelum duduk,” (lalu beliau membawakan dalil untuk menguatkan dan menambahkan fatwanya dalam rangka menjelaskan kepada penanya)

Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Pustaka as-Sunnah.