Buku Biografi Imam Ahmad

Buku Biografi Imam Ahmad

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 49.000,00
Rp 39.200
You save: IDR 9.800,00! (20.00%)

Product Description

Buku Biografi Imam Ahmad

Buku keempat dari serial biografi Imam empat mazhab ini menceritakan penggalan-penggalan hidup yang telah dilalui oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Mulai dari kelahiran, nasab, kehidupan, kecerdasan, perjuangannya menuntut ilmu, berbagai ujian yang menimpanya, ungkapan-ungkapan yang menggugah hati, dan pembelaan beliau terhadap kebenaran.

Semula sistematika penulisan buku ini terdiri dari satu bab, mengalir dari awal hingga akhir. Demi mempermudah pembaca dalam menyelami kisah demi kisah Imam Ahmad, kami mengubah susunan pembahasan (break downing) dan mengelompokkan beberapa pembahasan yang senafas dalam satu bab.

Rekomendasi Para Ulama

Ibarhim al-Harbi menuturkan, “Di mataku, Ahmad bin Hanbal seolah-olah diberi Allah ilmu orang-orang pertama dan terakhir dari berbagai generasi. Ia berkata seperti yang ia kehendaki dan diam seperti yang ia kehendaki.”

Abdurrazzaq berkata, “Belum pernah aku melihat seorang pun yang lebih mendalam pemahamannya dan lebih wara’ daripada Ahmad bin Hanbal.”

Abdurrahman bin Mahdi mengatakan, “Setiap kali menatap Ahmad bin Hanbal, aku selalu teringat Sufyan ats-Tsauri. Pemuda itu hampir saja menjadi imam saat masih berada di dalam perut ibunya.”

Abu Walid ath-Thayalisi berkata, “Di kufah dan Basrah, tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai melebihi Ahmad bin Hanbal.”

Waki’ (Guru Imam Ahmad) menceritakan, “Di Kufah, tidak ada seorang pun yang memberikan sesuatu seperti Ahmad bin Hanbal.”

Sekilas Tentang Beliau

Yatim sejak usia tiga tahun. Meski tanpa kehadiran seorang ayah di masa-masa pertumbuhannya, ia tetap tumbuh dengan begitu mengagumkan. Sang ibunda merawatnya dengan baik. Ia menitipkan anaknya kepada seorang ustadz untuk mengajarinya al-Qur’an. Tanda-tanda kecerdasannya terlihat sejak kecil, Ahmad kecil mampu menghafal al-Qur’an di usianya yang masih belia.

Ahmad bin Hanbal tumbuh sebagai sosok yang sangat antusias terhadap hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bidang inilah yang ditekuni oleh Imam Ahmad hingga beliau betul-betul expert di bidang hadits. Sampai-sampai Imam asy-Syafi’i menjadikan beliau sebagai rujukan sekaligus barometer shahih dan dhaifnya sebuah hadits.

Imam Ahmad terkenal sebagai sosok yang tangguh, pantang menyerah menghadapi kesengsaraan hidup. Beliau menjalani hari-harinya dengan serba kekurangan, tapi semua itu tak pernah membuatnya kalah dengan keadaan. Saat berada di Baghdad, Imam asy-Syafi’i melihat kondisi Ahmad bin Hanbal yang mengundang simpati. Imam Ahmad tidak mau makan kecuali dari hasil jerih payahnya sendiri, meski itu tidak cukup. melihat hal itu, Imam asy-Syafi’i menawari beliau jabatan qadhi pemerintahan untuk wilayah Yaman. Akan tetapi Imam Ahmad menolak tawaran itu. Imam asy-Syafi’i kembali menawarinya. Akan tetapi tetap ditolaknya. Sampai-sampai beliau berultimatum, “Jika pak guru kembali menawari saya, bisa jadi pak guru tidak bisa melihat saya lagi.” (Maksudnya, beliau sibuk dengan urusan pemerintahan dan beliau tidak bisa duduk bermajlis dengan Imam asy-Syafi’i)

Buku cetak edisi softcover, tebal buku 286 halaman, ukuran buku 14,5 x 22,5 cm, dan dengan berat 569 gram.
Penulis: Abdul Aziz Asy-Syinawi
Penerbit: Aqwam

Leave your comment here