Buku Begini Seharusnya Menjadi Guru

Buku Begini Seharusnya Menjadi Guru

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 30.000,00
Rp 24.000
You save: IDR 6.000,00! (20.00%)

Product Description

Buku Begini Seharusnya Menjadi Guru

Guru, sosoknya tidak pernah terganti. Guru, kehadirannya selalu dinanti. Buku setebal 192 halaman ini berjudul asli al-Mu’allim al-Awwal (Qudwah Likulli Mu’allim wa Mu’allimah). Sengaja dipersembahkan khusus bagi pengajar dan calon pengajar, berisi panduan lengkap metodologi pengajaran cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penyusun membagi ke dalam tiga bab pembahasan: karakter-karakter yang mesti dimiliki oleh seorang pengajar, tugas dan kewajiban guru, serta sistem dan metode dalam mengajar.

Kitab Ini Bukan yang Pertama

Penyusun berkata, “Saya tidak mengumpulkan semua yang datang dari Nabi dalam perkara tarbiyah dan ta’lim, akan tetapi saya hanya mengumpulkan hal-hal yang bila diperhatikan oleh seseorang, dia akan menemukan sesuatu yang dapat menerangi hatinya dan mencukupi dan memuaskannya -dengan izin Allah-. Sebenarnya beberapa ulama terdahulu telah melakukan hal ini, atau mendekatinya. Seperti Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadhlihi, Ibnu Muflih dalam al-Adab asy-Syar’iyyah, al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, dan selain mereka. Hanya saja mereka tidak membatasi kitab dan pembahasan-pembahasan mereka pada perbuatan dan perkataan-perkataan Nabi dalam hal tarbiyah dan ta’lim, melainkan juga memuat perkataan para sahabat, tabi’in, para ulama yang mulia, dan selain mereka. Mereka juga melakukan perluasan dalam hal itu; mereka memasukkan setiap perkara yang berkenaan dengan ilmu dan ta’lim ke dalam kitab mereka, sebagaimana yang akan terlihat bagi seorang pemerhati di dalam kitab-kitab mereka.”

Pentingnya Mengajarkan Kebaikan

Betapa bahagianya seorang guru, manakala ia melihat saldo pahalanya, pahala dari hasil jerihnya dalam mengajari seseorang (pahala menjadi guru). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim, no. 1017)

Penulis Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub, Penerbit Darul Haq.