Buku Ada Orang Utang

Buku Ada Orang Utang

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 35.000,00
Rp 31.500
You save: IDR 3.500,00! (10.00%)

Product Description

Buku Ada Orang Utang

Tidak ada larangan dalam syari’at untuk berhutang. Orang yang membutuhkan dibolehkan berhutang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah berhutang dengan gadai kepada orang Yahudi di akhir hayat beliau. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, “Rasulullah wafat, sementara baju besi beliau tergadaikan kepada orang Yahudi untuk jaminan 30 sha’ gandum kasar.” (HR. Bukhari, no. 2916 dan Ahmad, no. 3471)

Para ulama menjelaskan sisi pertimbangannya, mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhutang? Sebagian ulama menjawab, utang Nabi itu karena darurat. Dan ulama sepakat, utang karena darurat diperbolehkan.

Di sini, kita sedang mencari illah (latar belakang) mengapa Rasulullah berhutang. Para ulama menyimpulkan bahwa beliau berhutang karena darurat dan bukan untuk memperkaya aset. Siapapun yang melihat sejarah, akan bisa memaklumi itu. Karena kebutuhan Nabi untuk memberi nafkah keluarga cukup banyak.

Adab al-Qur’an Terkait Utang

Pertama, mencatat transaksi utang-piutang

Allah Tabaraka wa Ta’ala ajarkan dalam al-Qur’an,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.” (Surat al-Baqarah: 282)

Kedua, menghadirkan saksi

وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ ۖ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا

“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil.” (Surat al-Baqarah: 282)

Ketiga, adanya barang gadai

وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَىٰ سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ ۖ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ

“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya.” (Surat al-Baqarah: 283)

Keempat, adanya penjamin (dhamin)

قَالُوا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ وَأَنَا بِهِ زَعِيمٌ

“Penyeru-penyeru itu berkata: "Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya.” (Surat Yusuf: 72)

Penjabaran lebih detail terkait adab-adab ini dapat Anda tuntaskan pada hal. 47-57. Dan jangan lewatkan pembahasan menarik lainnya pada tiap-tiap bab yang kami sendirikan.  Semoga bermanfaat.

Buku cetak edisi softcover, tebal buku 229 halaman, ukuran buku 12 x 18 cm dan dengan berat 351 gram.
Penulis: Ammi Nur Baits
Penerbit: Muamalah Publishing