Buku 50 Doa Mengatasi Problem Hidup

Buku 50 Doa Mengatasi Problem Hidup

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 34.000,00
Rp 30.600
You save: IDR 3.400,00! (10.00%)

Product Description

Buku 50 Doa Mengatasi Problem Hidup

Buku 50 Doa Mengatasi Problem Hidup-Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafidzahullah berkata, “Doa adalah ruh ibadah, bekal yang bermanfaat bagi orang yang beriman, merupakan tanda bahwa seseorang tunduk dan patuh kepada Allah sebagai Rabb semesta alam. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang rajin berdoa. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.”

Sebab Lemahnya Doa

  • Doa yang berisi hal-hal yang tidak disukai oleh Allah, yaitu mengandung maksiat dan permusuhan. Misalnya, bila dengki kepada sepasang suami-istri maka dia mendoakan agar mereka bercerai, berdoa agar mendapat banyak harta untuk mabuk-mabukan dan berfoya-foya, dan lain-lain.
  • Lemahnya iman
  • Karena mengonsumsi hal yang haram, baik makanan, minuman, pakaian, dan lain-lain
  • Penuh dosa yang menutupi hati
  • Hati lalai ketika berdoa

Doa Agar Lepas Dari Utang Sepenuh Gunung

Dari ‘Ali, ada seorang budak mukatab (yang berjanji pada tuannya ingin memerdekakan diri dengan dengan syarat melunasi pembayaran tertentu) yang mendatanginya, ia berkata, “Aku tidak mampu melunasi untuk memerdekakan diriku.” Ali pun berkata, “Maukah kuberitahukan padamu beberapa kalimat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya padaku yaitu seandainya engkau memiliki utang sepenuh gunung, maka Allah akan memudahkanmu untuk melunasinya. Ucapkanlah doa,

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak”

Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. at-Tirmidzi, no. 3563, hasan menurut at-Tirmidzi, begitu pula hasan kata Syaikh al-Albani)

Waspada Terhadap Makanan Yang Anda Konsumsi

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thayyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thayyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim, no. 1015)

Ibnu Rajab punya pernyataan yang baik mengenai hadits di atas, “Selama seseorang mengonsumsi makanan halal, maka amalan shalih mudah diterima. Adapun bila makanan tidak halal dikonsumsi, maka sudah barang tentu amalan tersebut tidak diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1: 260)

Buku cetak edisi softcover, tebal buku 186 halaman, ukuran buku 11,5 x 17 cm, dan dengan berat 183 gram.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Penerbit: Rumaysho