Buku 17 Motivasi Berinteraksi Dengan al-Qur’an

Buku 17 Motivasi Berinteraksi Dengan al-Qur’an

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 45.000,00
Rp 36.000
You save: IDR 9.000,00! (20.00%)

Product Description

Buku 17 Motivasi Berinteraksi Dengan al-Qur’an

Sudahkah kita memiliki iman yang cukup untuk berinteraksi dengan al-Qur’an? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.’” (Surat al-Anfal: 2)

Berinteraksi dengan al-Qur’an, apapun bentuknya -baik berupa tilawah, menghafal, ataupun yang lainnya- merupakan kegiatan imani. Hal ini berarti keimanan kita kepada Allah Ta’ala merupakan modal utama dalam berinteraksi dengan al-Qur’an. Fisik yang kuat dan daya dukung lainnya bukanlah modal utama. Jika saja fisik merupakan modal utama, maka tentulah para olahragawan yang paling mudah melakukannya. Namun, ternyata tidak. Karena itu, kedekatan kita dengan al-Qur’an merupakan indikator keimanan yang baik. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Orang-orang yang telah Kami berikan al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Surat al-Baqarah: 121)

Begitu juga pada umumnya dalam realita beramal shalih. Setiap amal memerlukan kadar iman yang sesuai dengan amal itu sendiri. Untuk dapat shalat lima waktu secara rutin, misalnya, dibutuhkan iman yang sesuai. Untuk dapat berjihad kita juga membutuhkan iman yang sesuai. Begitu juga halnya untuk berinteraksi dengan al-Qur’an. Jika iman belum sesuai, jangankan untuk menghafal, sekedar untuk membaca saja tidak akan ada keinginan dalam diri.

Jangan Suka Memvonis Diri

Seperti ucapan, “Ah, saya tidak bakat.” Ya akhi … berinteraksi dengan al-Qur’an bukan masalah bakat atau tidak bakat. Berinteraksi dengan al-Qur’an adalah kebutuhan hidup orang yang beriman sebagaimana ia butuh terhadap makan, minum, tidur, dan lain sebagainya. Sesuatu disebut bakat biasanya untuk yang sifatnya keterampilan, seperti menjahit atau olahraga, seperti menjadi juara bulu tangkis.

Berinteraksi dengan al-Qur’an tidak bisa disamakan dengan hal-hal yang terkait dengan bakat. Mustahil jika kita mengatakan  bahwa diri kita tidak siap menegakkan shalat yang wajib, lima waktu dalam sehari semalam sepanjang hidup kita karena tidak berbakat. Mustahil pula kita tidak mau berpuasa pada bulan Ramadhan karena merasa dan beralasan tidak berbakat. Karena itu, kalau kita setuju dengan bantahan ini, permasalahn berinteraksi dengan al-Qur’an, sesungguhnya terkendala oleh pola pikir yang salah, sehingga menghasilkan penyikapan yang salah pula.

Mari kita pungkasi uraian singkat ini dengan motivasi yang melambungkan setiap jiwa yang beriman kepada Rabb-nya, Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.” (Hadits riwayat al-Bukhari)

Maukah kita tergolong di dalamnya?

Buku cetak edisi softcover, tebal buku 188 halaman, ukuran buku 14 x 20,2 cm, dan dengan berat 413 gram.
Penulis: Abdul Aziz Abdur Rauf
Penerbit: Markaz Al-Quran