Buku 155 Kisah Langka Para Salaf

Buku 155 Kisah Langka Para Salaf

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 70.000,00
Rp 56.000
You save: IDR 14.000,00! (20.00%)

Product Description

Buku 155 Kisah Langka Para Salaf

Buku ini adalah buku kisah salaf ketiga setelah Balada Cinta Penemu Kalung Permata dan Air Minum dari Langit yang sudah terbit sebelumnya. Melalui ketiga buku sederhana ini, penulis berusaha menyajikan beberapa kisah generasi teladan yang diabadikan oleh para ulama terdahulu dalam buku-buku mereka; baik buku hadits, sejarah, biografi, fikih, akhlak, dan adab, dan berbagai disiplin ilmu yang lain. Tentunya buku-buku turats (warisan) tersebut adalah buku klasik yang ditulis oleh ulama yang otoritatif.

Maka mari sejenak kita merenungi dan menghayati kisah-kisah para salaf yang mulia, yang keteladanan mereka akan menjadi warisan peradaban yang akan dikenang dari satu generasi ke generasi berikutnya; hanyut dalam indahnya keimanan, ketakwaan, keikhlasan, kejujuran, kedermawanan, ketawadhu’an, keluhuran akhlak, dan budi pekerti mereka yang sangat agung.

Teman Paling Setia

Kecintaan para sahabat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kecintaan yang tidak ada duanya. Mereka mencintai beliau melebihi kecintaan kepada orang-orang yang mereka kasihi dan sayangi. Pun, dengan kesetiaan mereka. Tidak ada seorang pun yang memiliki pengikut sesetia para sahabat.

Inilah pengakuan Abu Sufyan, yang perkataannya diabadikan oleh Ibnul Jauzi dalam Shifat ash-Shafwah (1/249):

Zaid bin ad-Datsinah bin Mu’awiyah pernah mengikuti perang Uhud, sedangkan ia sedang ditahan dalam perang ar-Raji’ bersama  Hubaib bin Adi. Lalu keduanya dijauhkan dari Quraisy, lalu dibunuh di Mekah. Orang yang membeli Zaid adalah Shafwan bin Umayyah, lalu ia membunuhnya bersama ayahnya. Setelah peristiwa tersebut, sekelompok orang Quraisy hadir dan di antara mereka terdapat Abu Sufyan. Lalu seorang berkata, “Ya Zaid, aku bersumpah atas nama Allah, bagaimana jika engkau sekarang berada bersama keluargamu dengan syarat Muhammad menggantikan tempatmu?"

Zaid pun berkata, "Demi Allah, aku sama sekali tidak ingin jika Muhammad terkena duri di rumahnya sedangkan aku duduk  bersama keluargaku." Abu Sufyan kemudian  berkata, "Sama sekali aku tidak pernah  melihat suatu kaum yang sangat mencintai sahabatnya melebihi para sahabat Muhammad."

Kaki  Pincang Karena Lalai Berdzikir

Muhammad bin Khalid berkata, “Aku mendengar Ayyub al-Hammal berkata, “Aku telah mengadakan perjanjian dengan diriku sendiri agar aku tidak berjalan dalam keadaan lalai, aku harus berjalan dalam keadaan berdzikir. Suatu ketika aku berjalan dalam keadaan lalai, lalu tiba-tiba kakiku pincang.

Aku pun tahu kepincanganku bersumber dari mana. Sehingga aku pun menangis, memohon pertolongan dan bertaubat kepada Allah, agar sakit dan pincangku lenyap.

Aku kemudian kembali ke tempat di mana aku dalam keadaan lalai (tidak berdzikir), lalu mulai berdzikir, dan akhirnya aku berjalan dalam keadaan sehat (tidak pincang lagi).” (Tarikh Baghdad; 7/457)

Buku cetak edisi softcover, tebal buku 428 halaman, ukuran buku 14 x 20,5 cm, dan dengan berat 650 gram.
Penulis: Ibnu Abdil Bari El-'Afifi
Penerbit: Pustaka Arafah