Buku 100 Kisah Tragis Orang-orang Zalim

Buku 100 Kisah Tragis Orang-orang Zalim

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 115.000,00
Rp 92.000
You save: IDR 23.000,00! (20.00%)

Product Description

Buku 100 Kisah Tragis Orang-orang Zalim

Buku 100 Kisah Tragis Orang-orang Zalim-Saya mengumpulkan kisah-kisah ini berdasarkan dorongan dari al-Ustadz Abdul Hamid. Beliau adalah kepala perpustakaan Maktabah Taufiqiyyah. Hal ini karena di dalam kisah-kisah tersebut memuat berbagai kejelekan dan hukuman yang diberikan kepada orang-orang zhalim serta petuah bagi orang-orang yang bertakwa. Tidak ada yang  bisa saya banggakan dari penyusunan kitab ini. Hanya saja saya berusaha melakukan seleksi dan pemilihan dengan sebaik-baiknya. Jika pembaca menganggap baik terhadap apa yang saya tulis ini dan mendapatkan faidah yang memuaskan dari sebagian yang saya dapatkan, maka saya telah mencapai apa yang saya inginkan.

Ibnu Taimiyah menukil dari Imam Ahmad: Dikabarkan bahwa ia (Ja’d) berasal dari penduduk Harran. Darinyalah, Jahm bin Shafwan mereguk madzhab orang-orang yang menafikan sifat Allah. Di sana, terdapat para tokoh Shabiah, filosof, dan sisa orang-orang yang menganut paganisme, yang menafikan sifat Allah dan perbuatan-perbuatannya.

Di kampungnya, ia mulai menebarkan racun bid’ahnya. Di antara orang yang terpengaruh dengan racun bid’ahnya ialah Marwan bin Muhammad yang pada gilirannya ia akan menjadi khalifah terakhir Dinasti Bani Umayyah. Bahkan ia sampai dikenal dengan sebutan Marwan al-Ja’di. Sebab Ja’d pernah berperan sebagai guru dan penasehatnya, saat Marwan menjabat gubernur al-Jazirah di Irak di bawah Hisyam bin Abdul Malik. Aqidah gurunya meresap, seperti pernyataannya bahwa al-Quran adalah makhluk. Kedekatan Ja’d dengan sang gubernur sangat membantu penyebaran aqidahnya yang sesat itu.

Kemudian ia merangsek menuju kota Damaskus, ibukota pemerintahan pusat saat itu. Ia ingin menjadikannya ladang kedua untuk menyebarkan aqidah sesatnya. Di hadapan ulama sekalipun, Ja’d tidak segan untuk “menawarkannya”. Bahkan menarik mereka untuk masuk dalam perdebatan.

Ulama yang bernama Wahb bin Munabbih pernah didatangi. Ja’d melontarkan pertanyaan tentang sifat-sifat Allah Azza Wa Jalla. Maka Wahb bin Munabbih menukas, “Celaka engkau, wahai Ja’d. Urungkan untuk bertanya tentang itu. Aku khawatir engkau akan menjadi orang yang binasa. Seandainya Allah tidak memberitahukan kepada kami dalam kitab-Nya, bahwa Dia mempunyai tangan, maka kami tidak akan mengatakannya…” Kemudian beliau menyebutkan sifat-sifat Allah lainnya.

Perdebatan yang ia sulut ternyata hanya menjadi bumerang bagi dirinya. Alih-alih membantu penyebaran pemikiran miringnya, akan tetapi justru semakin membongkar kedok kejahatan agama yang diinginkannya. Sehingga dirinya diajukan kepada Khalifah. Pada waktu itu yang berkuasa ialah Khalifah Hisyam bin Abdil Malik yang terkenal dengan ketegasannya terhadap ahli bid’ah.

Ibnul Atsir menceritakan tentang kronologis terbongkarnya kedok Ja’d, sehingga ia menjadi buronan Khalifah dengan berkata, ‘Telah tersebar berita bahwa Ja’d zindiq (kufur). Maimun bin Mihran pun telah menasihatinya, tetapi justru Ja’d membantahnya dengan mengatakan, ‘Aliran Syah Qubadz lebih aku cintai daripada agama yang engkau anut (Islam)’, kemudian Maimun bersaksi di hadapan Khalifah tentang ucapannya itu, hingga akhirnya urusan Ja’d diserahkan kepada Khalid Al Qasri untuk dibinasakan’. (Disadur dari Maqalatu at-Ta’thil Wa Ja’d bin Dirham, karya Prof. Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi via yufidia.com/3999)

Dalam riwayat buku ini disebutkan, ‘Kemudian Khalid turun dari mimbar dan menyembelih Ja’d. Tindakan eksekusi ini atas arahan dan fatwa dari para ulama tabi’in pada masa tersebut. Ahlussunnah berterima kasih atas tindakan Khalid bin  Abdullah al-Qasri.’ (hal.361)

Buku cetak edisi softcover, tebal buku 539 halaman, ukuran buku 16,5 x 24 cm, dan dengan berat 791 gram.
Penulis: Hani al-Hajj
Penerbit: Buana Ilmu Islami