Buku Saku Panduan Haid, Nifas, & Istihadhah Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah (Pustaka Ibnu Umar)

Buku Saku Panduan Haid, Nifas, & Istihadhah Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah (Pustaka Ibnu Umar)

Beli Produk Ini

Rp 9.500

Product Description

Buku Saku Panduan Haid, Nifas, & Istihadhah Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah

Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Pustaka Ibnu Umar

Fikih wanita tidak lepas dari problem klasik yang satu ini, sebenarnya bukan problem tapi “Istimewa”!!! Sebuah hikmah yang tidak kita duga. Anda bisa membacanya di halaman 6-7. Berkenaan dengan haid, Allah Ta’ala singgung dalam firman-Nya,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ

“Mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haid. Katakanlah, “Dia itu adalah suatu kotoran (najis)”. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di tempat haidnya (kemaluan). Dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci (dari haid). Apabila mereka telah bersuci (mandi bersih), maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian.” (Surat al-Baqarah: 222)

Secara otomatis para suami harus “puasa” untuk sementara waktu dan terdapat hukum khusus tentangnya. Dan para wanita diberi keringanan untuk tidak mengqadha shalat, bahkan Aisyah radhiyallahu ‘anha sempat marah dengan pertanyaan seorang wanita yang bertanya terkait mengganti shalat, dengan ucapannya yang populer dalam bab manhaj, “Apakah kamu ini Haruri?” (Sebuah sindiran dan pengingkaran bagi kaum Khawarij). Dan Aisyah menandaskan,

كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

“Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apa saja yang diulas dalam buku saku ini? Buku ini diawali dengan Makna Haid dan Hikmahnya; lalu dibahas tentang Usia Haid dan Lama Periodenya; lanjut menuju Kasus-Kasus Di Luar Kebiasaan Haid; Hukum-Hukum yang Berkaitan dengan Haid; Istihadhah dan Hukum-Hukumnya; Nifas dan Hukum-Hukumnya. Kemudian pada bab akhir buku ini menyoal tentang Obat Pencegah atau Perangsang Keluarnya Haid, dan Pencegah Kehamilan atau untuk Menggugurkannya. Jadi, kasus-kasus kontemporer pun dibahas di sini. Orang bilang, “Fikih Kekinian.”

Hukum Kosongnya Rahim

Keyakinan tentang kosongnya rahim (dari keberadaan janin) diperlukan dalam beberapa masalah. Misalnya: Jika seseorang wafat dan meninggalkan isteri yang janin dalam kandungannya bisa saja menjadi ahli waris orang tersebut. Sementara itu, wanita tersebut telah memiliki suami yang baru. Maka suaminya yang baru tersebut tidak boleh mnyetubuhinya sebelum wanita itu haid dan jelas-jelas ia hamil. Jika jelas-jelas ia hamil, maka kita hukumi bahwa janin tersebut berhak menerima warisan, dengan sebab janin itu telah ada dalam kandungan pada saat orang itu meninggal. Dan jika wanita itu haid, maka kita hukumi bahwa janin itu tidak berhak menerima warisan, karena kita hukumi bahwa rahim wanita itu kosong (ketika suaminya meninggal), dengan bukti adanya haid.

Judul Buku : (Saku) Panduan Haid Nifas & Istihadhah
Penulis : Abu Muhammad Ibnu Shalih Al-Utsaimin
Penerbit : Pustaka Ibnu Umar
Format Buku : Softcover
Dimensi Buku : Ukuran buku saku 9 cm x 14 cm, tebal buku 64 halaman, berat buku 150 gram