Buku Saku Merindukan Anak Shalih (Pustaka Ibnu Umar)

Buku Saku Merindukan Anak Shalih (Pustaka Ibnu Umar)

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 14.000,00
Rp 12.000
You save: IDR 2.000,00! (14.29%)

Product Description

Buku Saku  Merindukan Anak Shalih

Fahd bin Muhammad al-Hamizy, Pustaka Ibnu Umar

Ayah Madrasah bagi Anak (al-Aabaa Madrasatul Abnaa) … sebuah buku yang mengajak para ayah memenej pendidikannya mulai dari rumah. Di samping ada partner sejatinya (sang istri) dalam ta’awun alal birri wa taqwa. Jika biasanya Ibu adalah sekolah pertama bagi anak, maka itu juga tidak salah. Akan tetapi, dalam buku ini lebih ditekankan kepada figur ayah yang sering lari dari mendidik anak-anaknya. Dengan alasan ini dan itu (capek kerja, bisnis, tidak sabaran, dan semisalnya). Padahal fenomena seperti itu, siapakah yang dirugikan? Jelas, anak dan orang tuanya. Jika suatu saat nanti anak durhaka, maka ia dapat saja berkata, “Wahai ayah, engkau telah durhaka kepadaku saat aku masih kecil, maka aku durhaka kepadamu saat engkau sudah tua. Engkau menyia-nyiakan aku semasa kanak-kanak, maka aku menyia-nyiakanmu saat engkau tua.”

Tentu Anda tidak mau mengalami nasib demikian.

Seni Kemewahan

Mewah (Mepet Sawah) bagi sebagian orang Indonesia, dan sebagiannya lagi tampak mewah dengan hasil berhutang. Gaya “the have” sudah kadung mendarah daging. Apa penyebabnya? Penulis berkisah, “Belum lama ini, saya berjalan di salah satu jalan ibu kota, lalu pandangan saya tertatap pada nama ini “Fann at-Taraf” (Seni Kemewahan). Saya bertanya-tanya dalam hati saya, “Apakah kemewahan telah menjadi seni?!?” Kemudian saya mulai berpikir dan memutar benak saya tentang contoh-contoh kemewahan yang kita jalani dalam kehidupan kita dan kita mendidik anak-anak kita padanya. Betapa banyaknya hal itu! Hingga kemewahan menjadi salah satu dasar kehidupan dan kelaziman (keharusan) pendidikan bagi sebagian ayah.”

Lalu penulis mengutip perkataan dari Syaikh Abdullah Alu Jarullah, “Jauhkanlah anak-anak Anda dari kemewahan dan biasakanlah mereka dengan kekasaran. Kemewahan akan melemahkan kehendak jiwa dan menjauhkannya dari keinginan-keinginan luhur yang menuntut kesabaran dan kesungguhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela orang-orang yang bermewah-mewahan di sejumlah ayat dalam al-Qur’an dan menjelaskan bahwa mereka menentang semua kebaikan dan orang-orang yang melakukan semua kebaikan dan orang-orang yang melakukan perbaikan. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

“Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” (Surat Saba’: 34)

Adapun kekasaran maka ini adalah kekhususan laki-laki.” Selesai kutipan.

Tidak diragukan lagi bahwa kemewahan itu merusak anak.

Judul Buku : (Saku) Merindukan Anak Shalih
Penulis : Fahd bin Muhammad al-Hamizy
Penerbit : Pustaka Ibnu Umar
Format Buku : Softcover
Dimensi Buku : Ukuran buku saku 10.5 x 15 cm, tebal buku 82 halaman, berat buku 150 gram.