Buku Saku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (Pustaka Muslim)

Buku Saku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (Pustaka Muslim)

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 14.000,00
Rp 12.000
You save: IDR 2.000,00! (14.29%)

Product Description

Buku Saku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris

Muhammad Abduh Tuasikal, Pustaka Muslim

Sungguh, keterasingan Islam makin menjadi, saat seorang muslim takut terhadap dan mencela ajaran agamanya sendiri. Mengapa demikian? Bisa jadi kurangnya pemahaman agama pada mereka. Jika itu masalahnya, maka cukup dijelaskan secara persuasif. Namun, lain perkaranya jika yang mencela berasal dari orang-orang yang dikenal dengan atribut keislamannya (padahal mereka tahu dalilnya), maka menjabarkan perkara ini lebih mendalam (secara ilmiah) kiranya mampu mengobati syubhat yang mendekam dalam pikiran mereka. Wallahul Muwaffiq.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing.” (HR. Muslim)

Inilah artikel ringkas yang menyoroti problematika umat yang selalu up date untuk dibahas. Pasalnya setelah kericuhan peledakan bom di beberapa daerah di Indonesia, diketemukan bahwa pelaku dan istri pelaku mengenakan atau berpenampilan “nyunnah”. Padahal saat menjalankan aksinya mereka berpenampilan biasa, memakai topi, celana menyapu lantai ---layaknya orang pada umumnya. Giliran mereka ditangkap, maka tiba-tiba … mereka berpenampilan seolah-olah mereka almamater dari suatu pondok pesantren. Aneh bin Ajaib!

Jenggot bukanlah malapetaka yang harus dicukur layaknya iklan pisau cukur. Yang mana menyatakan bahwa cowok ganteng itu tanpa jenggot. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى

“Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.” (HR. Muslim)

Meski jelas haditsnya, tetap ada pihak-pihak yang memutar balikan fakta dengan mengubah artinya sebagaimana pernah ditemukan dalam buku panduan kesehatan. Penerjemah menyebutkan, “Maka potonglah Jenggot.” ??? Sebuah tanya penuh keheranan dari yang membacanya.

Demikian pula tampilnya celana di atas mata kaki menjadikan beberapa kaum muslimin sensi (sensitif sekali), seolah pemakainya mengikuti aliran / jama’ah tertentu? Bagi mereka yang terbiasa melaksanakan sunnah ini, tentu pernah mengalami tindakan yang tidak menyenangkan (unfaedah). Seperti pertanyaan, “Mas, pimpinan jama’ahnya siapa?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ

“Kain yang panjangnya di bawah mata kaki, maka tempatnya di Neraka.” (HR. Bukhari)

Hendaknya orang-orang yang mengolok-olok ajaran yang mulia ini untuk kembali ke jalan yang benar. Allah Azza wa Jalla berfirman,

...فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“...Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Surat An-Nur: 63)

Judul Buku : Saku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris
Penulis : Muhammad Abduh Tuasikal
Penerbit : Pustaka Muslim
Format Buku : Softcover
Dimensi Buku : Ukuran 17,5 x 11,5 cm, Berat 200 gr, Tebal 104 halaman