Buku Saku Masalah Darah Wanita (Pustaka Al-Inabah)

Buku Saku Masalah Darah Wanita (Pustaka Al-Inabah)

Beli Produk Ini

Rp 8.000

Product Description

Buku Saku Masalah Darah Wanita

Izzudin Karimi Abu Khair, Pustaka Al-Inabah

Buku ini merupakan paparan ringkas dari kumpulan karya ulama yang disusun oleh penulis. Ada beberapa bab sederhana yang disajikan, mulai dari definisi, hukum, hal-hal yang diperbolehkan hingga problem kontemporer yang sering ditanyakan oleh para wanita. Melihat judul bukunya, pasti Anda berpikiran bahwa buku ini spesial buat kaum Hawa saja. Anggapan tersebut kurang tepat. Mengapa? Karena di sekitar Anda ada ibu, saudari, istri, bibi, dan anak-anak perempuan tentunya. Mereka membutuhkan bimbingan dalam hal ini. Bahkan, para ulama banyak menyusun karya tentangnya, guna menjembatani kebenaran agar sampai kepada mereka. Karena sifat dasar wanita adalah malu untuk mengungkapkan hal-hal yang amat privasi.

Haid adalah darah alami yang terjadi pada wanita pada siklus tertentu. Disebut haid karena ia mengalir dan menetes pada waktu tertentu. Tidak ada batas minimal dan maksimal untuk waktu haid, akan tetapi ia dikembalikan kepada kebiasaan masing-masing wanita.

Wanita Haid Tetap Mendatangi Shalat Iedain (Idul Fitri dan Idul Adha)

Dari Ummu Athiyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ ، فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ . قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِحْدَانَا لا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ . قَالَ : لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk keluar pada hari Idul Fitri dan Idul Adha, baik ‘awatiq (wanita yang baru baligh), wanita haid, maupun gadis yang dipingit. Adapun wanita haid, mereka memisahkan diri dari tempat pelaksanaan shalat dan mereka menyaksikan kebaikan serta dakwah kaum muslimin. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab.’ Beliau menanggapi, ‘Hendaklah saudarinya (maksudnya: sesama muslimah, pent.) meminjamkan jilbab kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan para ulama menjelaskan hadits di atas dengan ungkapan-ungkapan yang menarik. Sebut saja Al-Hafizh Ibnu Hajar, Imam Asy-Syaukani, dan Imam Ibnu Utsaimin rahimahumullah.

Sedikit Tentang Istihadhah

Tidak ada perbedaan antara wanita yang mengalami istihadhah dengan wanita yang suci dalam hukum-hukum yang dibolehkan dan yang dilarang. Karena istihadhah bukan haid dan bukan pula nifas, maka ia tidak mengambil hukum keduanya, akan tetapi mengambil hukum wanita suci kecuali dalam hal-hal berikut ini; Pertama, wanita yang mengalami istihadhah harus berwudhu setiap kali hendak shalat. Kedua, membersihkan sisa-sisa darah dan melekatkan kain dengan kapas (semacam pembalut) pada tempat keluarnya darah dan mencegah darah menetes ketika hendak berwudhu. Ketiga, Adapun hubungan suami istri, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama (boleh atau tidaknya berjima’ dengannya). Manakah yang rajih? Silahkan disimak di akhir pembahasan ...

Judul Buku : Saku Masalah Darah Wanita
Penulis : Izzudin Karimi Abu Khair
Penerbit : Pustaka Al-Inabah
Format Buku : Softcover
Dimensi Buku : Ukuran: 14 x 9 cm, Berat: 100 gr, Tebal: 60 halaman