Buku Saku Hukum Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya (Pustaka Ibnu Umar)

Buku Saku Hukum Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya (Pustaka Ibnu Umar)

Beli Produk Ini

Rp 9.500

Product Description

Buku Saku Hukum Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya

Lajnah Daa-imah, Pustaka Ibnu Umar

Masjid adalah tempat ibadah bagi kaum muslimin, posisinya yang istimewa menjadikan umat ini terpaut kepadanya. Dan beruntunglah bagi orang-orang yang terpaut hatinya kepada masjid. Namun, belakangan ini kita dapati sunnah sayyi’ah (jelek) kembali membumi di masjid-masjid kaum muslimin. Perkara apakah itu? Yakni fenomena keranjingan membuat masjid di sekitar pemakaman (apakah di depan, belakang, samping kanan atau kiri. Dan yang paling sering posisinya menghadap ke arah kubur). Tidakkah mereka mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbunyi,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah, maka janganlah kalian menyembah apa pun selain Allah.” (Surat al-Jin:18)

Ayat di atas merupakan teguran keras, agar umat Islam tidak terjatuh ke dalam kesyirikan dan menjauhi wasilah-wasilah yang mengantarkan kepada kesyirikan. Buku ringkas ini memaparkan kepada Anda sejumlah fatwa dari Lajnah Da-imaah seputar Hukum Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya. Semoga mencerahkan dan mampu mengembalikan kaum muslimin yang sudah terlanjur ke dalam jurang kesalahan. Sesungguhnya setiap mukmin itu bersaudara, apabila saudaranya jatuh ke dalam kekeliruan, maka dengan sigap, ia mengambil tangan saudaranya untuk digandeng menuju kebaikan dan taqwa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecam keras perbuatan menjadikan kuburan sebagai kiblat baik secara tersirat maupun tersurat,

لاَ تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ وَلاَ تَجْلِسُوا عَلَيْهَا

“Janganlah shalat menghadap kubur dan janganlah duduk di atasnya.” (HR. Muslim)

Bahkan Rasulullah mengingatkan dengan keras terhadap kebiasaan kaum Nashara di negeri Habasyah,

أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ – أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ – بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ

“Mereka adalah kaum yang jika hamba atau orang shalih mati di tengah-tengah mereka, maka mereka membangun masjid di atas kuburnya. Lantas mereka membuat gambar-gambar (orang shalih) tersebut. Mereka inilah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.” (HR. Bukhari).

Ijma’ Para Ulama Terkait Hal Ini

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Bahkan, tidak boleh menjadikan kubur sebagai masjid, baik dengan membangun masjid di atasnya maupun menyengaja shalat di sisinya. bahkan, para imam agama bersepakat atas larangan itu, dan bahwa tidak boleh seorang pun menyengaja shalat di sisi kubur seseorang, baik Nabi maupun bukan Nabi. Setiap orang yang mengatakan bahwa menyengaja shalat di sisi kubur seseorang atau di sisi masjid yang dibangun di atas kubur, monumen atau selainnya, adalah perkara yang disyariatkan sehingga hal itu dianjurkan dan lebih utama daripada shalat di masjid yang tidak ada kuburnya, maka sungguh ia telah keluar dari agama, dan menyelisihi ijma’ kaum muslimin.”

Judul Buku : (Saku) Hukum Shalat Di Masjid Yang Ada Kuburannya
Penulis : Al-Lajnah ad-Daaimah-Bab ‘Aqidah
Penerbit : Pustaka Ibnu ‘Umar
Format Buku : Softcover
Dimensi Buku : Ukuran buku saku 9 cm x 14 cm, tebal buku 48 halaman, berat buku 150 gram