Buku Meneladani Shalat & Wudhu Nabi (Pustaka Ibnu Umar)

Buku Meneladani Shalat & Wudhu Nabi (Pustaka Ibnu Umar)

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 14.000,00
Rp 11.200
You save: IDR 2.800,00! (20.00%)

Product Description

Buku Saku Meneladani Shalat & Wudhu Nabi

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, Pustaka Ibnu Umar

Shalat merupakan tiang agama dan ia tergolong amalan yang mulia yang setara dengan jihad apabila dikerjakan tepat pada waktunya. Para sahabat bertanya, “Amal apakah yang paling utama?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” 

Buku yang ada di hadapan pembaca berisi sifat wudhu dan sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Besar harapan kami, agar kaum muslimin dapat mencontoh beliau dalam perkara yang agung ini. Buku ini disertai dengan gambar sehingga memudahkan siapa saja untuk memahaminya. 

Serba-Serbi...

Membaca Basmalah

Kemudian membaca basmalah dengan mengucapkan, “Bismillahirrahmanirrahiim.” (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensirkan (tidak mengeraskan) bacaan basmalahnya, dan tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau terus menerus mengeraskan basmalahnya. Akan tetapi beliau terkadang memperdengarkannya kepada makmum dengan bacaan yang sir, yakni tidak terlalu mengeraskannya, sehingga bacaan basmalah beliau tidak akan terdengar kecuali oleh orang yang dekat saja.

Peringatan Penting!

Sebelum wudhu’ seorang muslim tidak disyaratkan untuk membasuh kemaluannya terlebih dahulu, karena membasuh kemaluan itu (baik kemaluan maupun dubur) hanya diperintahkan setelah buang air besar atau buang air kecil. Adapun ketika hendak wudhu, maka tidak termasuk ke dalam perintah itu.

Hal-hal yang diharamkan terhadap orang yang berhadats

Apabila seseorang muslim berhadats, yakni tidak dalam keadaan mempunyai wudhu, maka diharamkan kepadanya beberapa hal: Pertama, memegang mushaf berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penduduk Yaman, “Tidak boleh menyentuh Al-Qur’an, kecuali orang yang telah bersuci.” Adapun membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh mushaf adalah diperbolehkan. Kedua, seorang yang berhadats tidak boleh melakukan shalat, kecuali berwudhu terlebih dahulu, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah tidak menerima shalat seseorang yang tidak bersuci (terlebih dahulu).” Ketiga, seseorang yang berhadats dibolehkan sujud tilawah dan sujud syukur, karena keduanya bukan shalat. Namun yang lebih utama adalah berwudhu terlebih dahulu sebelum melakukan keduanya. 

Judul Buku : Meneladani Shalat & Wudhu Nabi
Penulis : Syaikh ‘Abdullah b. ‘Abdurrahman al-Jibrin
Penerbit : Pustaka Ibnu Umar
Format Buku : Softcover
Dimensi Buku : tebal buku 76 halaman, dimensi 10,5 x 15, berat 200 gram