Buku Konsekuensi Cinta Kepada Nabi Muhammad (Pustaka At-Taqwa)

Buku Konsekuensi Cinta Kepada Nabi Muhammad (Pustaka At-Taqwa)

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 38.000,00
Rp 30.400
You save: IDR 7.600,00! (20.00%)

Product Description

Buku Konsekuensi Cinta Kepada Nabi Muhammad

Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa

Gaung cinta Nabi tidak pernah padam, atas nama shalawat segalanya dilegalkan, bagaimanakah syariat memandang cinta Nabi sesuai tuntunan? Inilah buku yang Anda cari … mengungkap seputar konsekuensi dari syahadat yang kedua, syarat diterimanya ibadah, kewajiban berittiba’, hakikat cinta Nabi, dan perayaan Maulid dalam Islam. Sungguh, suatu pembahasan yang runtut dan banyak dibutuhkan umat.

Buku berukuran sedang ini berisi 11 bab, dimulai dengan “Makna Dua Kalimat Syahadat” dan dipungkasi dengan “Sorotan Terhadap Perayaan Maulid Nabi”. Ringan dan tidak berat untuk dikonsumsi, inilah sifat artikel yang dibawakan oleh penyusun. Qalallah wa qalarrasul (baca: firman Allah dan Sabda Nabi), kemudian sedikit keterangan atasnya. Sehingga memudahkan untuk dipahami.

Ahlussunnah wal Jama’ah sepakat tentang wajibnya mencintai dan mengagungkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi kecintaan dan pengagungan terhadap seluruh makhluk. Akan tetapi dalam mencintai dan mengagungkan beliau tidak boleh melebihi apa yang telah ditentukan syari’at, karena bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam seluruh perkara agama akan menyebabkan kebinasaan. Rasulullah bersabda,

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka kata-kanlah, ‘‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).’” (HR. Bukhari, Tirmidzi, Ahmad, dan Darimi)

Tidak boleh seseorang melakukan perbuatan atau ibadah  yang Nabi tidak contohkan, apalagi mengatakan bahwa perbuatan itu termasuk “cinta” kepada Nabi??! Karena hakikat cinta kepada Nabi adalah dengan ittiba’ bukan dengan berbuat bid’ah. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan ibadah yang paling mulia, sedangkan dalam beribadah kepada Allah tidak boleh seorang muslim melakukan perbuatan bid’ah, karena bid’ah dilarang dalam agama.

Iman Kepada Nabi Muhammad

Pada bab keempat ini mengandungi beberapa hal, di antaranya Keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah tentang Muhammad Rasulullah, padanya terdapat beberapa poin: 1). Keumuman Risalah Nabi Muhammad. 2). Ahlussunnah menyaksikan dan meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah penutup para Nabi. 3). Ahlussunah berkeyakinan bahwa Rasulullah tidak mengetahui masalah ghaib semasa hidupnya kecuali yang diajarkan oleh Allah, apalagi setelah beliau wafat.

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Surat At-Taubah: 128)

Judul Buku : Konsekuensi Cinta Kepada Nabi Muhammad
Penulis : Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Penerbit : Pustaka At-Taqwa
Format Buku : Softcover
Dimensi Buku : tebal buku 150 halaman, ukuran buku 14 x 21 cm, berat buku packing +/- 300 gram