Buku Dzikir Bersama Bid’ah atau Sunnah? (at-Tibyan)

Buku Dzikir Bersama Bid’ah atau Sunnah? (at-Tibyan)

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 15.000,00
Rp 12.000
You save: IDR 3.000,00! (20.00%)

Product Description

Buku Dzikir Bersama Bid’ah atau Sunnah?

Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais, penerbit at-Tibyan

Dzikir berjama’ah atau dzikir bersama menjadi tren yang merebak di mana-mana. Di negeri ini maupun di maupun di negara seberang sana. Mukadimah tulisan ini berisi tentang latar belakang pemilihan tema sekaligus metode pembahasan. Di sana juga memuat tentang peringatan atas keyakinan sebagian masyarakat awam di sebagian negara akan wajibnya dzikir berjama’ah sesudah shalat atau di waktu lainnya. Mukadimah seakan berfungsi sebagai pengantar pembahasan.

Sementara pendahuluan dalam buku ini berisi penjelasan tentang kedudukan dzikir yang merupakan ibadah agung, juga penjelasan bahwa ibadah itu bersifat paket, tidak ada peluang bagi pendapat akal atau kaidah istihsan untuk mencampurinya. Adapun sub pembahasan pertama mengulas tentang definisi dzikir berjama’ah. Sub pembahasan kedua mengulas seputar sejarah bermunculnya budaya dzikir berjama’ah. Sub pembahasan ketiga menjelaskan tentang berbagai pendapat yang memperbolehkan dzikir berjama’ah berikut argumen mereka.

Lalu, sub pembahasan keempat menjelaskan tentang berbagai alasan mereka yang melarang dzikir berjama’ah berikut dalil-dalil mereka. Sub pembahasan kelima menjelaskan tentang hukum dzikir berjama’ah. Sub pembahasan keenam menjelaskan tentang dampak buruk yang ditimbulkan oleh kebiasaan baru dzikir bersama. Adapun penutup, berisi tentang ringkasan pembahasan yang memuat beberapa kesimpulan.

Sisi Buruk Dzikir Bersama

Pertama, menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Karena sesungguhnya tidak ada satu hadits pun yang telah dinukil dari mereka mengenai hal itu. Dan tidak diragukan lagi bahwa setiap yang menyelisihi petunjuk Rasulullah dan sahabatnya adalah bid’ah yang sesat. Seandainya itu baik, pasti Nabi telah melakukannya dan pasti sudah diikuti oleh para sahabatnya, dan sudah pasti dinukil dari mereka. Tidak diragukan lagi, manakala tidak ada hadits yang dinukil dari mereka tentangnya, ini menunjukkan bahwa mereka pun tidak pernah melakukannya. Segala sesuatu yang bukan bagian dari agama pada masa mereka, berarti hari ini bukan bagian dari agama.

Kedua, menghilangkan sikap sopan dan beradab. Karena dzikir bersama itu seringkali menyebabkan tubuh seseorang bergoyang-goyang, bahkan terkadang menari dan melakukan hal sejenis itu. Cara semacam itu, tidak diperbolehkan dalam berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Ada sekitar tujuh poin, pembaca bisa mengulasnya di halaman 106-109)

Hati-Hati Terhadap Bid’ah

Bid’ah itu dalam bab agama, bukan perkara dunia. Lantas, jika ada orang yang menyatakan, “Listrik itu bid’ah, pesawat itu bid’ah,” pada hakekatnya ia tidak paham apa itu bid’ah. Sungguh telah datang hadits-hadits yang menyebutkan, “Aku tinggalkan kalian dalam suatu keadaan terang-benderang, siangnya seperti malamnya. Tidak ada yang berpaling dari keadaan tersebut kecuali ia pasti celaka.” (HR. Ahmad)

Rasulullah bersabda, “Tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan diri kepada Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan kepada kalian.” (HR. Thabrani)

Dan yang paling tegas adalah lafadz ini,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perkara dalam agama ini tanpa ada tuntunannya maka amalannya tersebut tertolak.” (HR. Bukhari Muslim)

Judul Buku : Dzikir Bersama Bid’ah atau Sunnah
Penulis : Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumais
Penerbit : At-Tibyan
Format Buku : Softcover
Dimensi Buku : tebal buku 112 halaman, ukuran buku 12 x 18 cm, berat 200 gram