Buku Belajar Berumah Tangga Kepada Nabi (AQWAM)

Buku Belajar Berumah Tangga Kepada Nabi (AQWAM)

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 48.000,00
Rp 38.400
You save: IDR 9.600,00! (20.00%)

Product Description

Buku Belajar Berumah Tangga Kepada Nabi

Buku Belajar Berumah Tangga Kepada Nabi-Pernikahan identik dengan ketentraman, kasih sayang, dan keharmonisan. Fenomena yang sering kita ungkapkan dengan istilah ‘cinta’. Pertanyaannya, mengapa ketentraman, kasih sayang, dan keharmonisan harus dengan perempuan, bukan dengan yang lain? Perempuan seperti apakah yang bisa mewujudkan impian ketentraman dan kasih sayang? Mengapa Anda memilih wanita idaman? Motivasi apakah yang membuat hati Anda cenderung memilihnya? Apakah karena harta, kecantikan, atau agamanya? Mengapa dan motif apa di balik pilihan tersebut?

Inilah yang saya maksud motivasi menikah, yakni target jangka panjang dan tujuan yang mendominasi hidup Anda sebelum berpikir untuk menikah. Dalam hal ini, motivasi masing-masing individu berbeda. Dalam diri seseorang terkadang motivasinya bermacam-macam sesuai dengan tujuannya. Hal ini juga bergantung pada tingkat kepeduliannya terhadap tanggungjawab dalam menghadapi arus kehidupan  serta pertarungan hidup dengan kebatilan yang semakin meluas dan merata di bumi.

Hal tersebut menjelaskan bentuk motivasi bagi orang mukmin. Sekarang, bagaimana dengan orang yang tidak beriman? Ada apa dengan keanekaragaman  motivasi dan tujuan mereka? Mereka juga melakukan hubungan perkawinan dalam koridor tujuan jahat mereka. Mereka mengartikan hubungan perkawinan sebagai pelampiasan nafsu seksual, bukan sebagai sebuah kemuliaan. Mereka juga menjadikan pernikahan sebagai sarana untuk mewujudkan tujuan-tujuan jahat mereka.

Pernikahan merupakan sebuah wewenang yang Allah berikan kepada manusia. Wewenang tersebut umpama dua sisi mata uang. Satu sisi diimplementasikan  oleh kaum mukminin dalam kebaikan dan untuk mewujudkan tujuan-tujuan mulia, sedangkan sisi yang lain dipergunakan oleh setan untuk memerangi agama Allah sepanjang masa. (Lihat, hal.17-34)

Manajemen Gosip

Apa yang Anda lakukan saat orang-orang menyebarkan berita buruk kepda keluarga Anda? Apakah Anda akan mencari kebenaran berita itu atau bertindak dengan gegabah dan sembrono? Kita harus melihat tindakan Rasulullah. Berita bohong telah menyebar. Berita itu telah menyebar. Berita itu disebarkan oleh orang-orang munafik bahwa Mariyah memiliki hubungan dengan seorang laki-laki dari Qibthi yang diutus bersamanya dari Mesir. Ia biasa mencarikan air dan kayu bakar untuk Mariyah.

Beritu  itu terdengar oleh Rasulullah. Beliau berduka karenanya, terutama karena peristiwa  itu terjadi setelah kejadian berita bohong (haditsul ifki). Rasulullah mengutus Ali -semoga Allah memuliakan wajahnya- untuk mencari berita yang sebenarnya. Ia melihat orang Qibthi tersebut di atas pohon kurma. Ketika Ali menghunus pedang, pakaian orang Qibthi itu jatuh karena ketakutan. Ternyata, orang itu dikebiri. Ali pun memberitahukan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga beliau merasa tenang. Setelah itu, Jibril ‘alaihissallam datang kepada beliau dan memberi kabar gembira dengan ucapannya, “Wahai Abu Ibrahim.” (Simak kelengkapannya pada halaman 182-184)

Buku cetak edisi softcover, tebal buku 215 halaman, ukuran buku 14 x 20,5 cm, dan dengan berat buku 203 gram.
Penulis: Abdul Halim Khafaji
Penerbit: Aqwam Jembatan Ilmu