Mushaf Hafalan Utsmani Madinah A6 (Maana Publishing)

Mushaf Hafalan Utsmani Madinah A6 (Maana Publishing)

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 75.000,00
Rp 67.500
You save: IDR 7.500,00! (10.00%)

Product Description

Mushaf Hafalan Utsmani Madinah

Ukuran A6 Ma ana Publishing

Tiada hari tanpa membaca Al-Qur’an, dan inilah yang dilakukan para salaf, selain membaca, mereka ada agenda untuk menghafalkannya. Dari Jundub bin ‘Abdillah, ia berkata,

كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا 

“Kami dahulu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami masih anak-anak yang mendekati baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an. Lalu setelah itu kami mempelajari Al-Qur’an hingga bertambahlah iman kami pada Al-Qur’an.”

Kami hadirkan kembali Mushaf Hafalan bagi Anda yang tengah berusaha untuk menghafalkannya dengan mudah dan salah satu caranya ialah dengan mushaf yang sama. Mushaf ini dilengkapi terjemah sehingga memudahkan Anda untuk mentadabburinya. Selain itu disematkan pula tajwid warna, sub tema ayat, indeks tematik, dan yang tak kalah pentingnya ialah panduan hafalan di pojok kanan maupun kiri atas (dari mana harus mulai menghafal ayatnya). Al-Qur’an ini didesain seukuran kantong yang ready pada jaket Army look maupun Jaket Parka yang biasanya menampilkan fitur kantong yang agak besar. Jadi, memungkinkan para penghafal Al-Qur’an untuk mudah membawa mushaf tanpa menenteng tas.

Seorang penghafal Al-Qur’an mendapat kemuliaan dengan keistimewaan yang tidak didapatkan oleh orang biasa. Dahulu seorang bekas budak diangkat menjadi Gubernur dan Khalifah yang menjabat saat itu bertanya, “Mengapa engkau memilih dia sebagai Gubernur?” Lalu yang mengangkatnya menjawab, “Bahwasanya ia hafal terhadap Kitabullah dan ilmu mawaris.” Sungguh, masya Allah mantap luar biasa. Seorang pemimpin teladan tentunya melahirkan rakyat yang utama pula, bi idznillah.

Dan seorang yang hafal Al-Qur’an didahulukan untuk mengimami suatu kaum dalam shalat berjama’ah. Hal ini masyhur dalam hadits yang menyebutkannya. Jadi, asal usul standar; “Monggo yang tua untuk maju ke depan,” aslinya berawal dari hadits yang mengutarakan tahapan-tahapan kelayakan seorang untuk menjadi imam: 

يَؤُمُّ القومَ أقرؤُهم لكتابِ اللهِ . فإن كانوا في القراءةِ سواءً . فأعلمُهم بالسُّنَّةِ . فإن كانوا في السُّنَّةِ سواءً . فأقدمُهم هجرةً . فإن كانوا في الهجرةِ سواءً ، فأقدمُهم سِلْمًا . ولا يَؤُمنَّ الرجلُ الرجلَ في سلطانِه . ولا يقعدُ في بيتِه على تَكرِمتِه إلا بإذنِه قال الأشجُّ في روايتِه ( مكان سِلمًا ) سِنًّا

“Hendaknya yang mengimami suatu kaum adalah orang yang paling baik bacaan Al-Qur’annya. Jika mereka semua sama dalam masalah bacaan  Al-Qur’an, maka hendaknya yang paling paham terhadap Sunnah Nabi. Jika kepahaman mereka tentang Sunnah Nabi sama, maka yang paling pertama hijrah (mengenal sunnah). Jika mereka semua sama dalam hijrah, maka yang paling dahulu masuk Islam. Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya”. Dalam riwayat Al Asyaj (bin Qais) disebutkan: “Yang paling tua usianya” untuk menggantikan: “Yang paling dahulu masuk Islam.”

Judul Al-Qur’an : Mushaf Hafalan Utsmani Madinah Terjemah Tajwid A6
Penerbit : Maana Publishing
Format Al-Qur’an : Hard Cover
Dimensi Al-Qur’an : tebal Al Quran 604 halaman, dimensi 11.5 cm x 15 cm, berat 360 gram