Buku Islam Masa Muda Para Shahabat (Buku Ke-1)

Buku Islam Masa Muda Para Shahabat (Buku Ke-1)

Beli Produk Ini

Old Price: IDR 40.000,00
Rp 32.000
You save: IDR 8.000,00! (20.00%)

Product Description

Buku Islam Masa Muda Para Shahabat (Buku Ke-1)

Buku Islam Masa Muda Para Shahabat (Buku Ke-1)-Rajut asa sewaktu muda, sebab ia adalah waktu di mana seseorang dalam masa vitalitas yang tinggi. Lengah sekejap saja, maka ia akan menuai kerugian sepanjang masa. Sebab masa yang telah lewat tidak mampu diulang lagi meski banyak para pemuda yang mengkhayalkan adanya ‘Mesin Lorong Waktu’ dengan harapan memutar waktu yang telah berlalu. Masa muda hendaknya dipenuhi dengan misi-misi realistis dan hindari misi-misi yang beraroma takhyili (baca: khayalan / fiksi, seperti: Berharap jadi Spiderman atau Super Hero lainnya).

Ibnu Syarqi mengumpulkan 11 (sebelas) pemuda yang ia jadikan contoh teladan bagi para pemuda hari ini. Penulis berharap para pemuda dapat mengambil ibrah dari tulisan yang beliau rangkum. Penulis mengawalinya dengan menyoroti kondisi geografis suatu daerah, dalam hal ini Jazirah Arab. Menurut Muhammad Syafiq Saputra (salah seorang mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang) menyebutkan dalam satu makalahnya yang berjudul “Keadaan Dan Kondisi Jazirah Arab”, “Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi geografis Arabia memberikan pengaruh besar terhadap kejiwaan masyarakatnya. Kekerasan dan peperangan sering muncul pada masa Jahiliyah demi untuk mempertahankan hidup mereka. Kejam, sadis, dan suka berfoya-foya merupakan karakter yang melekat pada bangsa Arab saat itu. Namun, mereka juga memiliki sifat yang terpuji seperti kesetiaan dan kejujuran terhadap suku mereka serta selalu menepati janji.”

Pencari Kebenaran

Tahukah Anda siapakah Salman al-Farisy? Ia adalah sosok pencari kebenaran sejati. Gunung menjulang ia daki dan laut membentang pun disebranginya, itulah gambaran tentang kekokohannya di dalam mencari agama Islam. Beliau sempat berguru dengan beberapa pendeta (ada yang baik dan ada yang buruk akhlaknya), hingga ia akhirnya  menjadi budak. Namun, tekad membaja untuk mencari tahu kebenaran terus meluap tiada terbendung. Dan Allah menerima jerih payahnya, Allah bukakan pintu untuk berjumpa dengan Rasul-Nya. Lalu Rasulullah mempersaudarakannya dengan Shahabat Anshar yang bernama Abu Darda’. Kisahnya yang inspiratif menghiasi sumber-sumber ilmu, salah satu di antaranya:

Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’,  ……………………. Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali.

Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.“ Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari no. 1968)

Buku cetak edisi softcover, tebal buku 252 halaman, ukuran buku 14 x 20,5 cm, dan dengan berat 271 gram.

Penulis: Ibnu Syarqi

Penerbit: Wafa Press